Ambon, beritasumbernews.com – Kisah Seorang Pemimpin yang Tidak Pernah Lupa dari Mana Ia Berasal, dan Tidak Pernah Berhenti Membawa Kemajuan ke Tanahnya
Dulu ia berjalan kaki menjual daging sapi dari rumah ke rumah.

Kini ia membangun klinik mata berteknologi mutakhir di tengah pulau terpencil. Bukan karena ia berubah.

Tapi karena ia tahu persis apa yang dirindukan oleh orang-orang kecil seperti dirinya dulu.

Pulau Saparua, Maluku Tengah, Di sinilah seorang Elna Anakotta menghirup udara pertama kali, Dan di pulau kecil inilah ia belajar pelajaran paling berharga yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah mana pun, bahwa hidup adalah perjuangan tanpa henti, dan setiap orang layak mendapat kesempatan yang sama tanpa memandang siapa mereka.

Ayahnya, Eliza Anakotta, bukan sekadar petani cengkeh dan gembala sapi, Ia juga tukang jagal sapi di pulau itu, Setiap hari, setelah pisau jagalnya berhenti bekerja, ia memotong daging menjadi bagian-bagian kecil untuk dijual.

Dan siapa yang mengantarkannya ke pelanggan? Elna kecil putrinya sendiri.

Sepulang sekolah, sementara anak-anak lain berlari menuju lapangan atau duduk manis di depan televisi, Elna menggantungkan keranjang berisi daging segar di lengannya.

Ia berjalan kaki keliling kampung. Dari rumah ke rumah, Dalam panas yang menyengat, Dalam hujan yang mengguyur.

Ia tidak pernah mengeluh. Bukan karena ia tidak lelah, Bukan karena ia tidak ingin bermain, Tapi karena ia tahu, setiap potong daging yang laku adalah beras untuk makan malam, Setiap rupiah yang ia terima dari pembeli adalah doa yang dipanjatkan orang tuanya.

Dari sinilah mental baja Elna terbentuk, Ia belajar bahwa tidak ada yang instan dalam hidup, Ia belajar bahwa pelayanan sejati dimulai dari kerendahan hati dari bersedia berjalan kaki di jalan berbatu, dari bersedia tersenyum kepada setiap pelanggan meskipun kaki terasa melepuh.

Ibunya, Suster Nanda Mailisa, bekerja sebagai suster di Rumah Sakit Umum Saparua, Setiap hari, Elna melihat ibunya merawat pasien dengan kelembutan yang tidak pernah berpura-pura.

Ia melihat ibunya membersihkan luka yang bernanah, Ia melihat ibunya mengganti perban berdarah, Ia melihat ibunya memegang tangan pasien yang ketakutan, lalu berbisik,Tidak apa-apa, Tuhan beserta kita.

Dari ibunya, Elna belajar bahwa menjadi pelayan kesehatan bukanlah profesi melainkan panggilan jiwa, Ibunya tidak kaya, Gaji suster di RSU Saparua tidak pernah cukup untuk kehidupan mewah.

Tetapi ibunya kaya dalam kasih. Dan bagi Elna kecil, itu lebih dari cukup untuk menjadi teladan seumur hidup, Suatu hari, aku ingin seperti Ibu, bisik Elna dalam hati suatu malam, ketika ia melihat ibunya pulang larut dengan wajah lelah tetapi mata yang tetap bersinar.

Di tengah kesibukannya membantu orang tua, Elna tidak pernah membiarkan pendidikannya terabaikan, Justru sebaliknya keterbatasan menjadi bensin yang membakar semangat belajarnya.

Dari SD hingga SMA, nama Elna Anakotta selalu berada di peringkat pertama, Juara kelas, Juara umum, Juara murid teladan tingkat Kabupaten Maluku Tengah, Juara murid teladan tingkat Provinsi Maluku.

Saat kelulusan SMA tiba, bukan Elna yang mencari universitas tetapi universitas yang berebut dirinya, Enam perguruan tinggi terbaik di Indonesia membuka pintu untuknya: Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Universitas Udayana (UNUD), Universitas Padjajaran (UNPAD), Universitas Hasanuddin (UNHAS).
Elna memilih UGM.

Bukan karena lebih bergengsi. Bukan karena lebih populer, Tapi karena Yogyakarta adalah kota yang mengajarkan kesederhanaan, kebudayaan, dan ketulusa, nilai – nilai yang sangat ia rindukan dari kampung halamannya.

Menjadi mahasiswa perantau di era ketika komunikasi belum semudah sekarang bukanlah pengalaman yang manis, Elna hanya bisa menelepon orang tuanya seminggu sekali, itupun dengan biaya yang tidak murah.

Surat-surat yang dikirimkan memakan waktu berminggu – minggu untuk sampai ke Saparua, Dan kiriman uang dari orang tua? Pas-pasan, Kadang terlambat, Kadang tidak datang sama sekali, Pernah suatu ketika, Elna hanya makan mie instan selama tiga hari karena uang belum tiba.

Teman-temannya menawari makan, tetapi ia menolak dengan lembut, bukan karena gengsi, tetapi karena ia tidak ingin menjadi beban siapa pun.

Dari pengalaman inilah Elna benar-benar memahami penderitaan masyarakat kecil, Ia tahu bagaimana rasanya lapar tapi tidak punya uang, Ia tahu bagaimana rasanya ingin membeli buku tapi harus memilih antara buku atau makan, Ia tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak punya daya.

Dan pengalaman ini menjadi bahan bakar terbesar dalam hidupnya, Aku tidak akan pernah membiarkan orang lain merasakan penderitaan yang pernah aku alami, jika aku bisa melakukan sesuatu untuk mencegahnya.

Saparua bukan hanya pulau kecil yang indah, Saparua adalah laboratorium toleransi yang hidup, Di pulau ini, komunitas Kristen, Arab, dan Bugis-Makassar hidup berdampingan dengan damai sejak puluhan tahun.

Elna tumbuh besar di tengah mereka, Ia bermain dengan anak-anak dari berbagai latar belakang, Ia belajar bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan.

Nilai toleransi ini ia bawa hingga kini, Ketika ia membuka Klinik Mata Utama Maluku di Ambon dan Klinik Mata Nusa Ina di Pulau Seram, ia tidak pernah memilih-milih karyawan berdasarkan agama, suku, atau hubungan keluarga.

Yang ia cari adalah integritas, kerja keras, dan kemauan belajar, Lebih dari itu, Elna secara khusus merekrut anak-anak yatim dan kaum kurang beruntung mereka yang sering diabaikan oleh masyarakat.

Ia melatih mereka, Ia membimbing mereka. Ia mengubah mereka dari anak jalanan menjadi tenaga kesehatan profesional yang mandiri.

Inilah toleransi dalam tindakan. Inilah kasih yang tidak hanya diucapkan, tetapi dihidupi.

Elna tidak pernah puas hanya dengan menjadi dokter biasa. Ia memiliki mimpi besar bahwa masyarakat di pulau-pulau terpencil Maluku berhak mendapatkan layanan kesehatan yang tidak kalah dengan rumah sakit di Jakarta.

Dan ia mewujudkan mimpi itu. Pada Mei 2025, Elna meresmikan Klinik Mata Nusa Ina di Desa Waipirit, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Ini adalah fasilitas kesehatan mata pertama dan satu-satunya di seluruh Pulau Seram.

Tapi bukan sembarang klinik. Klinik ini dilengkapi dengan teknologi Phacoemulsification teknik operasi katarak modern dengan sayatan mikroskopis, tanpa jahitan, tanpa perdarakan, dengan masa pemulihan yang sangat cepat.

Teknologi ini adalah standar emas operasi katarak dunia, Teknologi yang sama digunakan di rumah sakit-rumah sakit terbaik di Jakarta, Singapura, atau Amerika Serikat. Dan kini, teknologi itu hadir di tengah Pulau Seram.

Bayangkan, seorang nenek di Pulau Seram yang sudah buta bertahun-tahun karena katarak dulu harus menyeberang laut ke Ambon, mengeluarkan biaya transportasi, akomodasi, dan pengobatan yang tidak sedikit.

Banyak yang akhirnya memilih diam, pasrah, dan buta selamanya, Kini, nenek yang sama cukup berjalan beberapa kilometer ke Klinik Mata Nusa Ina, Ia dioperasi dengan teknologi mutakhir, Dan dalam hitungan hari, ia bisa melihat kembali wajah cucu-cucunya, Itulah yang dilakukan dr. Elna Anakotta, Itulah mimpi yang ia perjuangkan, Bukan sekadar membuka klinik, Tapi membuka pintu harapan bagi mereka yang selama ini tidak pernah punya akses ke layanan kesehatan kelas dunia.

Ia adalah pemimpin yang dulu kakinya melepuh berjalan kaki menjual daging sapi dari kampung – kampung di pulau Saparua, Ia adalah pemimpin yang dibesarkan oleh seorang suster yang mengajarkan bahwa melayani adalah panggilan jiwa, bukan sekadar profesi.

Dan kini, ia membawa semua pengalaman itu ke dalam kepemimpinannya sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku.

Ia tidak hanya duduk di kantor ber-AC, Ia turun ke lapangan, Ia memastikan bahwa teknologi operasi katarak mutakhir hadir di Pulau Seram, Ia memastikan bahwa anak-anak yatim dan kaum kurang beruntung mendapatkan pekerjaan dan pelatihan, Ia memastikan bahwa tidak ada lagi warga Maluku yang buta hanya karena tidak mampu berobat.

Inilah pemimpin yang pantas kita dukung. Bukan dengan fitnah. Bukan dengan hoax, Tapi dengan kepercayaan dan doa. (***)