Masohi,beritasumbernews.com
Meriahkan HUT GPM ke 87, Jemaat GPM Se-Klasis masohi menggelar festival budaya sebagai tanda syukur gereja bersama umat yang ada di klasis GPM Masohi.

Hal ini di utarakan oleh Ketua Klasis GPM Masohi Pdt. Adriana Lohy.S.Th menyampaikan” pihaknya telah melaksanakan ibadah kebaktian syukur ke-87 yang diawali dengan kegiatan festival budaya dan juga lelang natura dan pangan lokal. Ungkap Lohy

Katanya” kegiatan ini merupakan hasil keputusan Sidang klasis Tahun 2022, festival budaya ini dilaksanakan dengan tema” melestarikan budaya Maluku terkait dengan pakaian adat tradisi gereja itu bagi yang hitam dan juga bagian-bagian adat yang lain, dan melibatkan semua jemaat Se-Klasis GPM Masohi. Ucapnya

Pasalnya” kegiatan ini didasarkan agar anak-anak generasi-generasi gereja bahkan juga bangsa dan negara ini terutama anak-anak Maluku paham terkait dengan tradisi dan budaya lokal dan sistem yang mesti dijaga mesti dilestarikan sebagai kekuatan peringkat peradaban kita sebagai orang-orang Maluku. Ucapnya

Lanjutnya” yang berikut terkait dengan kegiatan lelang natura dan pangan lokal, ini adalah misi dari gereja bersama untuk menuju satu abad yang akan menghadapi krisis pangan yang besar. Terangnya

Oleh karena itu gerakan menanam, melaut dan memasarkan itu terus akan kami laksanakan bahkan kami kerahkan supaya mempersiapkan umat menghadapi krisis yang panjang ini yang akan mengglobal di dunia, sehingga ini bagaimana gereja secara bersama memberikan kontribusi bagi pemerintah bagi masyarakat dengan ketahanan pangan yang disiapkan oleh masing-masing Jemaat.

Tambahnya” Oleh karena itu diarahkan bahwa tanah gereja yang kosong itu mesti diperdayakan bahkan yang tinggal di pesisir sebagai nelayan, mesti diberdayakan untuk melaut.

Tahun 2023 nanti dimana gereja akan melakukan gerakan memasarkan dalam kegiatan syukur kebaktian GPM yang ke-87 saat ini dilaksanakan di Jemaat kategorial Waipo dengan menampilkan beberapa aneka ragam makanan lokal.

Di tambahkan pula” pangan lokal ini hasil dari pelatihan klasik laksanakan dan hari ini juga akan muncul atau diluncurkan resep buku pangan lokal klasis GPM masohi, bahkan pihaknya akan menyerahkannya kepada pemerintah sebagai satu hubungan kerjasama untuk mempromosi pangan lokal yang ada di Maluku.

Hal itu di katakannya bahwa terlebih kusus yang ada di Kabupaten Maluku tengah, dan itu pada acara-acara tertentu dan itu dari macam-macam yang sudah siap untuk memproduksi, dan memproduksi pangan lokal kami akan melakukan juga kerjasama dengan pemerintah.

Terkait masalah izin produksinya pihaknya sangat mengharapkan ada izin dari pemerintah guna memperluas produksi pangan lokal yang telah di produksi oleh umat jemaat Se-Klasis Masohi. cetusnya

Harapannya itu agar dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti ini supaya Maluku Tengah ini lebih berkembang lebih maju lagi dengan ada banyak potensi warga masyarakat yang ada di dalam juga gereja bisa digunakan dengan baik potensi – potensi yang ada.

Bahkan Ketua Klasis juga mengungkapkan bahwa hampir hilang dua hal penting yang harus kembali di lestarikan yakni” tradisi pakaian hitam yang kini hanya tinggal di gunakan oleh orang tua yang bertugas dan sudah yidak di gunakan lagi oleh para anak muda gereja.

Selain itu satu hal penting yang mesti kembali di angkat yang selama ini nyaris hilang yaitu” terkait nyanyian jemaat dalam rumpun liturgi GPM melalui ketetapan Sinode tahun 2016, di tetapkan bahwa semua nyanyian primer harus bersumber dari buku – buku Nyanyian Rohani yang di gunakan oleh GPM yaitu” Tahlil, dan Nyanyian Oktolseja, dua sahabat lama, Mazmur dan Nyanyian Rohani, Kidung Jemaat, Pelemgkap Kidung Jemaat, Nyanyian Jemaat GPM. Jelasnya

Tidak dibenarkan nyanyian primer adalah kidung-kidung rohani yang dinyanyikan olehpenyanyi – penyanyi rohani yang popular melalui studio rekaman, Khusus mengenai Nyanyian Jemaat GPM (2012) merupakan hasil karya warga gereja sebagai satu
kumpulan hymnal yang sesuai dengan konteks berteologi dan musik tradisi di Maluku. Pungkasnya (Tim)