Ambon – beritasumbernews.com

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Cabang Ambon mengantisipasi lonjakan penumpang yang diperkirakan terjadi pada 7 Januari, khususnya pada rute Ambon–Tual dan Ambon–Tual.

Hal ini disampaikan Kepala Operasional Pelni Cabang Ambon
Anza Ansori, senin (29/12/2015) di lobi kantorPrlni Cabang Ambon.

Untuk mengurai kepadatan, satu kapal utama Pelni akan dibantu tiga kapal perintis. Pada tanggal tersebut akan beroperasi kapal perintis Sabuk Nusantara 44, 77, dan 32 yang seluruhnya diarahkan ke rute yang sama.jelasnya

“Diperkirakan pada tanggal 7 Januari itu arus ke arah Tual dan Tugu sangat ramai, sementara kapasitas kapal Pelni kemungkinan tidak mencukupi. Kapal Dempo juga sudah penuh,” ujarnya.

Menurutnya, Kementerian Perhubungan turut berupaya mengantisipasi lonjakan penumpang agar tidak terjadi penumpukan ekstrem di pelabuhan.

Hingga saat ini, rekayasa rute belum diberlakukan, dan operasional masih mengikuti pola bulan Desember.

“Untuk sementara masih pakai rute yang sama. Tidak ada perubahan, tetap masuk Banda.
Sementara KM Labobar diarahkan ke wilayah timur,”ungkapnya

Diskon Tiket 20 Persen Masih Berlaku Selama Kuota Tersedia
Pelni juga memastikan bahwa diskon tiket 20 persen masih tetap berlaku sebagai bagian dari program stimulan pemerintah, selama kuota nasional belum habis.

“Diskon 20 persen itu bukan kenaikan harga, justru penurunan. Kuotanya secara nasional sekitar 410 ribu penumpang. Selama kuota masih ada, diskon tetap berlaku,” tegasnya.

Penambahan Kapasitas Penumpang Sesuai Dispensasi
Terkait kapasitas kapal, Pelni menerapkan dispensasi sekitar 25 persen dari kapasitas maksimal, tergantung kondisi lapangan dan pengawasan darat.
Sebagai contoh:
Kapal berkapasitas 1.000 penumpang dapat dioperasikan hingga sekitar 1.400 penumpang.
KM Labobar dengan kapasitas dasar 2.000 penumpang dapat mencapai sekitar 3.000–3.100 penumpang, termasuk dispensasi tambahan.
Namun demikian, Pelni menegaskan bahwa pengaturan ini sangat bergantung pada kontrol di darat.tambah dia

Infrastruktur Pelabuhan Jadi Faktor Penentu
Pelni menilai kondisi Pelabuhan Ambon masih relatif lebih terkendali dibanding beberapa daerah lain seperti Timika, terutama dari sisi pengaturan pengantar dan pengunjung.

“Di Ambon, penumpang benar-benar kita tahan. Pengantar tidak boleh masuk ke area dermaga. Kalau pintu pelabuhan dijaga ketat dan infrastrukturnya memadai, penumpukan bisa diminimalisir,” jelasnya.

Ia menyoroti bahwa masalah sering muncul di pelabuhan yang belum memiliki terminal memadai, sehingga pengawasan menjadi sulit.

Pelabuhan Baru Mulai Beroperasi Penuh 2028
Pelni juga menyampaikan bahwa pembangunan pelabuhan baru diperkirakan mulai berjalan serius pada 2026, dan beroperasi penuh sekitar 2028.

“Kalau dibangun sesuai desain
dan maket, tentu akan jauh lebih baik. Tapi masih sekitar dua tahun ke depan. Yang jelas, sekarang pelabuhan harus lebih steril,” katanya.

Ia mengimbau agar pengantar tidak ikut masuk, serta barang pindahan tidak dibawa tanpa prosedur resmi.

Diharapkan untuk penumpang “kalau mudik kalau oleh bawa barang pindahan, harus bayar sesuai aturan. Itu demi kenyamanan dan keselamatan bersama,” tutupnya.(lely)