Giat Pertemuan Antara Pemda Halmahera Utara Bersama Para Tokoh Gereja Menuju Rekonsiliasi GMIH

Tobelo,beritasumbernews.com
Bertempat di ruang Meeting Fredy Tjandua, telah dilaksanakan Pertemuan antara Pemda Halmahera Utara bersama Para Tokoh Gereja menuju Rekonsiliasi GMIH dalam rangka mewujudkan Kerukunan dan Kedamaian, demi terciptanya tatanan kehidupan warga dalam Daerah Kab. Halut yang Aman dan diliputi ketentraman dan Ketertiban.

Hadir dalam pertemuan tersebut yakni” Bupati Halut Ir Frans Manery, Sekda Halut Drs. EJ Papilaya MTP, Para Undangan Berjumlah 50 orang.

Sementara Tokoh Gereja yang hadir yakni” GMIH Jln Kemakmuran, Pdt. Ester Flory (Gamsungi), Pdt. Mince Tjuluku (Kumo), Pdt. Rosdiana Duke (Lina Ino), Pdt. Sherly Tumulo (Wosia Popoki), Pdt. Sherly Gigisor (Gamsungi), Pdt.Tristan Wangka (MKCM), Pdt. Simei Siwadi (MKCM)

Selain itu hadir juga Pdt. Sefnat Hontong (Wosia), Pdt. Andi Botara (Wari), Pdt. Arnold Surat (Gosoma), Pdt. Munson Lalu (Wari), Pdt. Jidon Toory (Wari), Pdt. Rein Wattimena (WKO), Pdt. Rendi Telehala (Gura), Pdt. Aneke (WKO), Pdt. Manasye Ngongira (Gura).

Bahkan hadir juga Pdt. Palamea (Gura), Pdt. Renny Belian Ali (Pitu), Pdt. Biso (Wosia), Pdt. Risky Manuhuttu (Gamsungi).

Sementara GMIH Jln Pemerintahan, Pdt. Selfi Manungal (Kali Pitu), Pdt. Martha (Buale), Pdt. Ona Lokolo (Kakara B), Pdt. Rita Subadun (Wosia), Pdt. Icak Sumtaki (Gamsungi), Pdt. Dece Lumansik (Gura), Pdt. Yuren Hasang (Gura)

Kemudian Pdt. Roky Lahura (WKO), Pdt. Rita Emray (MKCM), Pdt. Ari Budiman (Gosoma), Pdt. Lani Lumansik (WKO), Pdt. Iren Souhoka (Wari Ino), Pdt. Tonunu (TPI), Pdt. Fernando Lumansik (Kusu-Kusu), Pdt. Lengkong (Wari).

Hadir pula Pdt. Suryati Kumidi (MKCM), Pdt. Yurlen Like (Wosia), Pdt. Jumoko (Pitu), Pdt. W. Collin (Tomahalu), Pdt. Gustaf Tong Tongo (Kupa-kupa).

Sedangkan dari pihak Para Tokoh Gereja, yakni” DRS Piet Hein Babua, Drs Djidon Hangewa, S. Laritmas, Fence Pinoke, S. Popoko, J. Timisela, Ny.Eda Thomas, Win Thomas, Nagara, Nuku Romony.

Giat Pertemuan antara Kedua Kubu GMIH bersama Pemda Halamahera Utara kemudian di mulai dan dibuka oleh Sekda Drs EJ Papilaya MTP.

Berkesempatan Bupati Halut Ir. Frans Manery menyampaikan bahwa” Kita patut bersyukur kepada Tuhan bahwa kita dapat berkumpul di saat ini, giat yang dilaksanakan saat ini guna membicarakan kondisi kehidupan bermasyarakat dan bergereja dalam kurun waktu 8 tahun yang hingga saat ini belum berakhir (Internal GMIH).

Oleh karena dalam kurun waktu tersebut GMIH masih berada dalam proses pergumulan, sehingga konsep perdamaian akan coba kami bangun kembali di saat ini.

Lanjut Bupati” Beberapa waktu lalu kita pernah melaksanakan upaya Rekonsiliasi, namun gagal karena hanya melibatkan jajaran diatas, sehingga maksud saya kali ini selaku Pemerintah Daerah bermaksud kembali melakukan upaya rekonsiliasi dari tingkat bawah.

Kata Bupati” Mudah – mudahan dapat berjalan dengan baik sehingga pada tahun 2022 masalah GMIH sudah selesai.

Bupati mengatakan” Dalam prosesnya kami harapkan tidak ada lagi bahasa Gmih baru dan GMIH lama termasuk Slogan, sehingga pada saat ini tujuan kita bisa tercapai yakni kata Damai.

Bupati berharap” Pertemuan ini akan di gelar dalam 5 tahap, dan pada tahap 5 nanti kita akan undang kedua BPHS.

Saya mohon agar dalam pertemuan ini kita dapat mebicarakan sesuai fakta dan saya meminta ketulusan kita, dengan tidak mendaulati lainya.

Inti dari pertemuan ini yakni apakah kita sama – sama “Mau Rekonsiliasi ataukah tidak”, apabila semua setuju maka solusinya bagaimana ? bisakah kita akhiri konflik di tahun ini atau bagaiman ? Karena saya cukup teraniaya karena dinilai tidak menyelesaikan masalah ini.

Tambah Bupati” Perlu saya sampaikan pula bahwa ini adalah Nazar saya, hal inipun di ingatkan pula oleh wakil Bupati, sehingga saya komitmen untuk selesaikan masalah ini tahun ini, dan Gubernur pula direncanakan akan bertemu kedua Kubu.

Selain itu koordinasi tingkat Pemerintah Pusat juga sudah di bangun (Bimas Kristen dan PGI) dan hanya satu kata yakni Rekonsiliasi, Intinya kita saling mengasihi untuk dapat menyelesaikan maslah ini.

Pada pertemuan inipun diharapkan ada perwakilan 6 orang sebagai inisiator untuk menuju rekonsiliasi yang utuh. Pinta Bupati

Setelah mendengar Maksud dan Tujuan pelaksanaan giat oleh Bupati Halut, Giat dilanjutkan dengan penyampaian beberapa hal yang di bagi dalam dua Sesi.

Dalam sesi yang pertama mendapat pertanyaan dari J. Timisela, Saya senang sekali mendengar ungkapan hati dari Bapak Bupati, tidak ada sukacita tanpa damai, tidak mungkin jadi satu tanpa damai, karena GMIH cuma satu dan hanya satu satunya.

Sudah banyak usaha dalam rekonsiliasi sebelumnya, namun tidak pernah selesai, menurut kami yang bersengketa harus damai dahulu kemudian kita lanjutkan proses rekonsiliasi ini. Ungkapnya

Kata Timisela” Saya yakin kita semua ingin damai, Mari sama – sama berpikir dengan hati jernih dan mari kita mulai sesuai dengan tahapan yang direncanakan.

Kemudian di sampaikan pula oleh Pdt. Hontong yakni” Saya bersyukur karena kita bisa jumpa saat ini dan di fasilitasi olh Bupati dan Sekda.

Menurutnya” Kita tahu bahwa keinginan rekonsiliasi ini sebenarnya sudah lama baik keputusan secara institusi dan organisasi.

Suatu saat saya sempat berpikir tentang perdamaian dan saya belajar dari bagaimana tembok Berlin bisa runtuh, itu dimulai dari kelompok kecil demi masa depan. Kata Hontong

Saya yakin kita semua sadar dan ini penting, untuk itu mari kita lihat hal mana yang masih mengganjal, karena keinginan sudah ada, namun masih ada hal yang menghalangi.

Tahapan dan rancangan yang di sampaikan oleh Bupati, kami harap persoalan Hukum mungkin bisa diposisikan dan dipertimbangkan kembali, karena ini merupakan salah sesuatu ganjalan.

Ada beberapa hal yang harus di tangani Pemerintah dan internal Gereja, saya siap mendukung karena itu merupakan hakekat kita bergereja, sehingga langkah ini bisa jalan demi rekonsiliasi. Tutup Pdt.Hontong

Sedangkan Pdt Biso menyampaikan” Kita sebagai pelayan Tuhan ingin damai, Karena hampir 90 % jemaat sudah berdamai, sebenarnya tinggal 1 langkah dimana kedua BPHS ini harus bertemu. Terangnya

Pasalnya” Saya usul selesai giat ini perwakilan kedua kubu bertemu dengan sinode masing – masing untuk mengajak mereka untuk berdamai, sehingga langkah berikut pertemuan kedua BPHS untuk bicarakan langkah selanjutnya dan deklarasi.

Usul saja Bupati dan Sekda masuk gereja di kedua kubu agar masyarakat tahu gereja sementara rekonsiliasi. Ujarnya

Kemudian Penyampaian dari Pdt I. Sumtaki bahwa” Terimakasih kepada Bupati dan Sekda sebagai penanggung jawab kehidupan bermasyarakat di Kab. Halut.

Katanya” Sesuai surat yang dilayangkan kami sangat mendukung upaya Pemda dan kami siap berjalan bersama Pemda.

Catatan – catatan yang di sampaikan oleh Bupati kami jawab dengan harus damai, dan itu wajib dan harga mati walaupun itu menyakitkan, itu harus.

Cara – cara untuk menangani konflik ni secara internal kami harapkan peran dari Pemda yang benar – benar mengatasi masalah dua kubu ini.

Kami harap figur Pemerintah yang sungguh – sungguh memperhatikan Rekonsiliasi, Sebagai Pemda perlu dekati kedua pihak dan bersepakat untuk menjadi tim rekon.

Kami setuju rekonsiliasi dan bentuknya seperti apa kami serahkan kepada Pemda untuk bentuk tim rekonsiliasi.

Dari semua yang di sampaikan Bupati menyampaikan bahwa” Apa yg di sampaikan ini benar semua, maksud dari giat dimaksud agar kedua pihak duduk bersama.

Saya bangga bahwa kita yang hadir saat ini bersepakat untuk rekonsiliasi. Pinta Bupati

Pasalnya” Apa yang di sarankan nantinya ada tim kecil untuk membahas, dan tidak ada interfensi.

Tahapan yang ada saat ini kita harus berjalan sesuai Rel, Setiap pertemuan saya akan cari 6 orang untuk itu saya serahkan kepada kedua gereja untuk memilih perwakilan. Harapnya

Bupati mengatakan” Saya fokus tahun ini kita damai, Saran untuk masuk Gereja akan di upayakan, karena sebelumnya saya tidak mau masuk, karena takut di bilang ada kepentingan. Ujarnya

Menurutnya” Saya yakin dan punya keyakinan hal ini akan tercapai, kami malu apabila GMIH tidak bisa damai.

Diharapkan Sidang Sinode hanya Satu , tidak ada lagi dua GMIH,
Langkah – langkah perdamaian kami apresiasi, damai harus saling dukung dan tidak melibatkan pribadi, Kami jemaat tidak ada perbedaan karena kita satu. Tegas Bupati

Pada sesi dua di sampaikan oleh Ny. Pdt E Mai bahwa” Jujur saya ketika saya dapat surat ini saya bangga dan berharap kita bertemu untuk menyatu bukan untuk mendua hati, Damai tanpa syarat dan mari berdamai di mulai dari pendeta. Ajaknya

Perwakilan Unira Nus Laritmas dan Perwakilan Pendeta Muda mengatakan” Kami apreasiasi Bupati untuk kedamaian dan keutuhan Gmih.

Menjadi warga GMIH cukup berat dengan situasi ini, Karena berpengaruh ke masa depan Pdt muda dan jemaat, Hasil survei tentang konflik Gereja, Tidak ada jemaat yang tidak mau damai, karena semua jemaat mau rekonsiliasi.

Semua upaya dan pendekatan selalu gagal karena kata EGO, sehingga siapapun mediatornya jemaat inginkan harus rekonsiliasi.

Para Pendeta harus berani mengikuti kata hati warga jemaat, Perdebatan di bawah terkait legitimasi bisa jadi sumber berkat dan juga bisa jadi buntu.

Pada dasarnya aturan gereja memungkinkannya, Karena giat ini juga berdasarkan aturan gereja dimana terdapat kedua belah pihak.

Penyampaian Pdt.Rendi” Sebagai pelaku damai harus diupayakan karena damai itu harus dihadirkan.

Langkah untuk menentukan perwakilan kiranya dapat di fasilitasi dari beberapa wilayah GMIH di Maluku Utara.

Pemikiran saya kekuatan Pendamaian ada di jemaat, sehingga apabila ada rekonsiliasi dari jemaat maka kita harus sepakati itu.

Rekonsiliasi harus ada keterlibatan kedua kubu yang saling menguntungkan dan tidak melukai.

Sedangkan” Penyampaian Pdt A Surat” Kita semua yang hadir rindu rekonsiliasi, dan saya rasa upaya rekonsiliasi tidak ada barometer lain, semuanya harus dalam Iman kita seperti Dosa manusia dan di damaikan olh Tuhan Yesus. Itu yg harus menjadi contoh, Kembali bersatu adalah hal yang utama seperti yang di upayakan oleh Pemda.

Penyampaian Fence Pinoke” Rekonsiliasi yang telah di upayakan mengalami jalan buntu karena EGO yang dikedepankan, kita malu apabila tidak ada kedamaian, jangan sampai persoalan ini berlarut – larut..

Saya setuju rekonsiliasi bila perlu Bekukan kedua BPHS untuk rekonsiliasi, Niat kita untuk damai harus ikhlas dan tulus, jangan ada tendensi kalau ada sesuatu lain, maka usaha itu akan sia – sia, saran saya tim yang dipercaya bekerja sungguh – sungguh tanpa ada kepentingan.

Pimpinan lebih dulu berdamai kemudian di barengi dengan masyarakat. Kata Dia

Sedangkan Penyampaian yang di sampaikan oleh Nuku bahwa”Apresiasi kepada Bupati dalam giat ini, kami setelah mendapat undangan kami ucapkan terimakasih atas penghargaan ini.

Rekonsiliasi pernah dilalui dan telah berproses, untuk itu Pemda lebih proaktif untuk tahun ini ada wujudnya, untuk itu semua pemimpin harus membuka diri dan kami sepakat mendukung upaya ini.

Kemudian Penyampaian Ibu Pdt Sherly” Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya, yang penting kita harus menerima antara jemaat satu dengan yang lain apa adanya.

Segala sesuatu yang terjadi di kolong langit semua di bawah pengawasan Tuhan, karena waktu Tuhan bukan waktu kita, ini adalah proses dalam kehidupan kita baik pemimpin dan seluruh warga Gmih.

Rekonsiliasi harus dan itu perintah konstitusi, sehingga pemimpin di harapkan ambil sikap tegas sebagai Pemda, termasuk pertemukan kedua kubu.

Kalau tidak bisa permukaan semua jemaat agar tercipta rekonsiliasi, Kami harap tim yang akan di bentuk kerja sesuai yang diharapkan Jemaat.

Kemudian Penyampaian Drs Piet Hein Babua bahwa” Soal rekonsiliasi ketika melangkah kedepan maka kita tahu darimana kira berasal dan kemana kita melangkah.

Soal perjalanan Rekonsiliasi cukup panjang dan proses ini dilakukan melalui tahapan di atas, Tahapan yang melibatkan kedua BPHS tidak ada penyelesaian, maka itu kita harus ke langkah tahap kedua yakni sasaran Pimpinan jemaat, dan saya yakin pimpinan jemaat yang hadir ini adalah pelopor untuk yakinkan pimpinan kita untuk damai.

Jika BPHS tidak mau, BPHJ tidak mau maka tahap lainnya yakni Jemaat yang menjadi pelopor rekonsiliasi.

Rekonsiliasi yang kita lakukan harus butuh pengorbanan, pasti ada kerikil dan interupsi dalam setiap pertemuan dan itu adalah hambatan GMIH harus satu

Kemudia di sampaikan pula Drs. Djidon Hangewa bahwa” Pertemuan ini adalah langkah maju, dan Pemda mempunyai kewenangan bantu menyelesaikan maslah kemasyarakatan.

Konflik di susupi oleh kepentingan dimana EGO tidak pernah di kesampingkan, Pengampunan penting dimana harus saling menerima.

Apabila para pemimpin tidak menyatu maka jemaat akan bersatu karena gereja berbasis jemaat.

Kerinduan warga untuk berdamai itu sangat antusias yang terkendala ini karena pimpinan.

Hasil survei sudah membuktikan dan itu benar adanya dan Pemda harus bantu itu untuk terciptanya rekonsiliasi

Jangan campur adukan hal pribadi dan politik di dalam upaya rekonsiliasi ini.

Sedangkan Penyampaian Ibu Eda”
Kita harus gunakan Konsep GMIH BAKU DAPA nantinya apabila tahap lainnya sudah terlewati, Perlu tuntunan Roh Kudus dalan setiap menyesuaikan Persoalan.

Penyampaian Bapak Erwin Thomas
Damai tidak perlu di suruh oleh Pemda dan Alkitab, damai itu harga mati oleh hakekat hidup Jangan kata damai hanya sebatas di atas mimbar dan pada sat ibadah.

SMS yang akan dilaksankan pada tahun 2022 kami usulkan di tunda apabila upaya Rekonsiliasi belum terlaksana.

Kembali Bupati Halut Ir Frans Manery menanggapinya” Konsep yang dijadikan ini bercermin dari pola upaya damai konflik sosial yang terjadi beberapa waktu lalu di Kab. Halut, pola inilah yang coba kita bangun dari akar, sehingga terciptanya Rekonsiliasi.

Kata Ini adaah nazar saya, saya tidak ada niat lainnya hanya fokus untuk selesaikan maslah ini, Langkah awal pertemuan di sini, selanjutnya akan di mulai pada perwakilan kedua untuk dibicarakan kepada para pimpinan.

Urusan pemerintahan saya akan upayakan, baik di Provinsi, Dirjen Bimas Kristen maupun instansi lainnya.

Kita harus secepatnya menyelesaikan masalah ini agar SMS selanjutnya kita bisa bertemu bersama dalam sidang yang sama, tidak ada Sidang Sinode lainnya.

Yang di undang saat ini adalah tokoh gereja untuk menyatukan kedamaian ini, unutk itu saya mohon kerja samanya.

Jangan persoalkan hal yang telah berlalu, namun bagaiman a caranya kita manyatukan GMIH, Terimakasih kepada semua pihak yang telah sampaikan pikiran – pikiran kritis demi rekonsiliasi.

Bahwa Pertemuan yang dilaksanakan merupakan pertemuan Tahap I dalam upaya Rekonsiliasi GMIH, masih terdapat Pertemuan Tahap lainnya menuju Rekonsiliasi.

Dalam giat Rekonsiliasi di tergetkan selesai secepatnya sehingga pada saat Sidang Majelis Sinode (SMS) pada tahun 2022 GMIH sudah bersidang dan hanya satu GMIH.

Terdapat Tim yang akan di bentuk diantaranya 3 orang dari GMIH Jln Kemakmuran dan 3 orang dari GMIH Jln Pemerintahan.
Pertemuan selanjutnya akan di sampaikan kemudian sesuai undangan. (Endy-21)

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *