Pemerintah Kota Ambon Melakukan MoU Dengan Kabupaten Buru

Ambonberitasumbernews.com – “Pemerintah Kota Ambon akan melakukan kerja sama dengan Kabupaten Buru, khususnya pengadaan cabe.”

Langkah ini sangat strategis karena Buru memiliki potensi pertanian cabe yang cukup tinggi. Dengan MoU yang disiapkan, pasokan cabe dari Buru diharapkan bisa memenuhi kebutuhan Kota Ambon, terutama saat momen Natal dan Tahun Baru ketika permintaan melonjak.Ambon – (28/112025)

Kerja sama ini juga bisa memberikan dampak positif bagi petani Buru melalui peningkatan pendapatan dan stabilitas harga, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah

“Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat di ibu kota provinsi Maluku ini.”

Langkah konkret seperti kerja sama pengadaan cabe dengan Buru dan daerah lain memang penting untuk memastikan ketersediaan bahan pangan di Kota Ambon. Dengan begitu, masyarakat bisa mendapatkan pasokan yang cukup dan harga yang stabil, terutama di tengah dinamika ekonomi akhir tahun.

“Disamping itu, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan cabe, juga dipasok dari Sulawesi Selatan dan Pulau Jawa.”

Langkah ini memang sering dilakukan ketika produksi lokal tidak mencukupi, terutama saat musim hujan atau paceklik. Sulawesi Selatan dikenal sebagai salah satu sentra cabe terbesar di Indonesia, dan Jawa juga memiliki surplus produksi yang bisa dikirim ke wilayah timur.

Dengan diversifikasi sumber pasokan, risiko kekurangan cabe bisa diminimalisir, dan harga di pasar bisa tetap stabil. Namun, pemerintah daerah juga perlu memastikan biaya logistik dan distribusi tetap kompetitif agar harga jual tidak membebani masyarakat .

Kalau pasokan (supply) melimpah, otomatis kapasitas produksi bisa maksimal, dan itu berdampak positif buat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Mungkin ini juga salah satu indikator positif dari sinergi antara Muhammadiyah dan pemerintah daerah, sehingga roda kegiatan bisa berjalan lancar dan produktif

“Pemkot Ambon memastikan stok bahan pokok menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 aman, kecuali cabai yang masih berpotensi defisit. Untuk itu, Penjabat Sekretaris Kota Ambon, Robby Sapulette, menyatakan akan ada MoU dengan Kabupaten Buru agar pasokan cabai dari sana bisa menutupi kebutuhan Kota Ambon. Ia menjelaskan produksi cabai di Buru cukup tinggi, sehingga kerja sama ini diharapkan bisa menjaga stabilitas harga di pasar saat lonjakan permintaan pada liburan akhir tahun.

Langkah ini juga bagian dari upaya Pemkot Ambon dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk memastikan ketersediaan pangan tetap terkendali.

“Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan komoditi pedas ini, pihak juga berencana akan melakukan hal serupa dengan Kabupaten Seram Bagian Barat.”

Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga ketersediaan cabai di Kota Ambon dan sekitarnya. Karena produksi lokal masih terbatas (hanya 40–50 ton/tahun dibandingkan kebutuhan 1.080 ton/tahun), menjalin kerja sama dengan Seram Bagian Barat bisa menjadi solusi strategis, mengingat wilayah ini juga memiliki potensi pertanian yang baik.

Dengan rencana MoU serupa, diharapkan pasokan cabai dari Seram Bagian Barat bisa melengkapi suplai dari Buru, sehingga stabilitas harga dan ketersediaan komoditas pedas di pasar tetap terjaga, terutama saat momen Natal dan Tahun Baru.

Pasokan Cabe dari Luar Maluku Jadi Solusi Tambahan

“Disamping itu, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan cabe, juga dipasok dari Sulawesi Selatan dan Pulau Jawa.”

Langkah ini memang sering dilakukan ketika produksi lokal tidak mencukupi, terutama saat musim hujan atau paceklik. Sulawesi Selatan dikenal sebagai salah satu sentra cabe terbesar di Indonesia, dan Jawa juga memiliki surplus produksi yang bisa dikirim ke wilayah timur.

Dengan diversifikasi sumber pasokan, risiko kekurangan cabe bisa diminimalisir, dan harga di pasar bisa tetap stabil. Namun, pemerintah daerah juga perlu memastikan biaya logistik dan distribusi tetap kompetitif agar harga jual tidak membebani masyarakat.

*Optimalisasi Produksi Lokal Jadi Kunci*

“Dan sisanya itu kan dari Probolinggo. Jadi, kita bagaimana mengoptimalkan itu dari produksi-produksi di wilayah Maluku,” tukasnya.

Pernyataan itu menunjukkan kesadaran bahwa ketergantungan pada pasokan luar daerah harus diimbangi dengan penguatan pertanian lokal. Dengan potensi alam Maluku yang subur, pengembangan varietas cabe unggul, peningkatan teknik budidaya, dan dukungan infrastruktur bisa meningkatkan hasil panen petani setempat.

( chey)