AMBON,-beritasumbernews.com– Sekretaris Kota Ambon Robby Sapullette menjadi narasumber dalam kegiatan “Duduk Bacarita” yang digelar Pemerintah Kota Ambon bersama Polresta Ambon. Ia menegaskan keamanan adalah pondasi utama pembangunan Kota Ambon.
“Bagaimana keamanan menjadi pondasi bagi pembangunan Kota Ambon. Karena bicara pembangunan bukan hanya bicara jalan, gedung, dan infrastruktur. Pembangunan membutuhkan rasa aman, rasa percaya, serta ruang hidup yang harmonis,” ujar Robby.
Ia menambahkan, keamanan tidak bisa dikerjakan polisi sendiri.
“Keamanan itu bukan sesuatu yang dapat dikerjakan polisi sendiri. Ia lahir dari kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” lanjutnya.
Pela Gandong dan Toleransi Adalah Kekuatan Sosial Ambon
Robby menyebut keberagaman di Ambon diikat oleh nilai-nilai luhur.
“Dalam keberagaman, tetapi di saat yang sama kita memiliki nilai toleransi, pela gandong, persaudaraan, dan gotong royong. Ini bukan sekadar slogan. Ini adalah kekuatan sosial yang selama ini menjaga Ambon untuk tetap berdiri dan terus berkembang,” tegasnya.
Menurutnya, tugas kepolisian bukan hanya mengantisipasi tindak pidana.
“Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita ikut merawat hubungan antar masyarakat. Kita harus ingat bahwa merawat persaudaraan jauh lebih mudah daripada memulihkan konflik,” katanya.
Jika komunikasi antara tokoh agama, tokoh adat, para raja, pemuda dan pemerintah terus terjaga, maka banyak persoalan bisa diselesaikan sebelum menjadi konflik.
Data Kejahatan Ambon 2025 – 2026: Waspada Kenaikan Pencurian dan Tawuran
Robby memaparkan beberapa data gangguan keamanan di Kota Ambon:
1. Pencurian: Naik dari 274 kasus menjadi 328 kasus atau naik 19,7%
2. KDRT: Dari 79 kasus turun menjadi 74 kasus sampai Agustus 2026. Namun tetap menjadi perhatian karena berkaitan dengan perlindungan korban dan ketahanan keluarga
3. Tawuran Pemuda: Naik dari 21 kejadian menjadi 36 kejadian
4. Narkoba: Jumlah kasus turun dari 16 menjadi 15. Tapi barang bukti sabu naik drastis dari 1,61 gram menjadi 94,03 gram (2025) -(2026)
“Artinya kita tidak boleh hanya melihat jumlah kasus. Kita juga harus melihat tingkat ancaman, pola kejahatan, siapa yang terlibat, dan dampaknya terhadap masyarakat,” ujarnya.
Untuk itu Polresta gencar melakukan patroli di titik-titik rawan setiap malam minggu. “Tujuannya agar masyarakat dapat menikmati akhir pekan dengan aman dan nyaman,” katanya.
Strategi Polresta: Preventif, Deteksi Dini, Penegakan Hukum
Robby menjelaskan strategi Polresta Ambon tidak semata penegakan hukum.
“Ada tiga pendekatan. Pertama preventif. Kedua deteksi dini terhadap potensi konflik, miras, provokasi, dan penindakan narkoba. Ketiga penegakan hukum. Tapi saya tegaskan, penegakan hukum adalah langkah terakhir,” tegasnya.
“Keberhasilan kepolisian bukan diukur dari seberapa banyak orang yang kita proses hukum. Keberhasilan terbesar justru ketika masyarakat tidak menjadi korban dan konflik dapat kita cegah sebelum terjadi,” lanjutnya.
Karena itu pendekatan “Bacarita” atau dialog menjadi penting. “Dialog adalah investasi perdamaian. Lebih baik kita menghabiskan waktu 2-3 jam untuk duduk bersama hari ini, daripada esok hari menghabiskan berhari-hari untuk menyelesaikan konflik,” katanya.
Pemuda Harus Jadi Agen Toleransi, Bukan Penonton
Perhatian khusus diberikan kepada anak muda.
“Kami tidak ingin melihat pemuda sebagai objek pembinaan. Kami membutuhkan pemuda sebagai agen toleransi yang mampu menjadi jembatan antar kelompok. Kita membutuhkan pemuda sebagai bagian literasi digital, karena hari ini konflik bisa dimulai dari satu postingan,” ujarnya.
Ia mencontohkan korban pertikaian antar negeri yang juga menimpa anggota kepolisian yang kini dirawat di RS Polri Kramat Jati.
“Saya percaya energi besar generasi muda Kota Ambon kalau diarahkan ke hal positif akan menjadi kekuatan besar bagi kota ini. Jangan jadikan anak muda hanya sebagai penonton pembangunan. Berikan mereka ruang untuk menjadi pelaku pembangunan,” ajaknya.
Pusat Keamanan Adalah Masyarakat
Robby menutup dengan menekankan pentingnya kolaborasi.
“Kalau kita ingin mewujudkan Ambon pung bae, maka tidak ada satu institusi pun yang mampu bekerja sendiri. Kita harus bergandengan tangan. Polri dan TNI jaga keamanan. Pemerintah dan akademisi dorong kebijakan. Tokoh agama dan adat kuatkan nilai moral. Media bangun ruang informasi yang sehat. Pemuda dan masyarakat jadi kekuatan partisipasi dan kontrol sosial,” katanya.
“Jadi pusat dari semuanya bukan polisi. Pusatnya adalah masyarakat. Polisi hadir sebagai bagian dari masyarakat untuk bersama-sama menjaga Kota Ambon,” pungkasnya.
Program “Polisi Lingkungan Masyarakat” dari Kapolda Maluku juga akan digencarkan melalui 5 pilar: mendengar, menyelesaikan, peduli, hadir sosial, dan cerdas termasuk program “Polisi Mengajar” di sekolah.
(Chey)

