AMBON,-beritasumbernews.com – Seorang tokoh masyarakat Maluku, sekaligus anggota DPRD Maluku Anis Jeremias menyampaikan rasa sedih dan kecewa yang mendalam atas peristiwa pemukulan terhadap Anak Buah Kapal / ABK KM Sabuk Nusantara 71 yang terjadi di tengah laut, di perairan depan Tiakur, Kabupaten Maluku Barat Daya.

Dalam pernyataannya, Anis menegaskan bahwa ABK adalah manusia yang menjalankan tugas negara dan wajib dihormati, dijaga, serta dilindungi.

“Selama ini Anos berusaha sekuat tenaga memperjuangkan pelayanan kapal perintis. Buka komunikasi, sampaikan informasi, dan bantu kepentingan masyarakat supaya akses transportasi laut katong tetap berjalan baik,” ujarnya.

“Karena itu, ketika terjadi tindakan kekerasan terhadap ABK yang sedang menjalankan tugas, beta sungguh merasa terpukul.”

Kapal Perintis Adalah Kebutuhan Bersama
Ia mengingatkan bahwa kapal perintis bukan milik pribadi, melainkan kebutuhan seluruh masyarakat kepulauan.

“Kapal perintis adalah kebutuhan katong bersama. Nakhoda, Perwira dan seluruh ABK yang bekerja di atas kapal juga manusia yang wajib katong hormati, jaga dan lindungi,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan risiko serius jika kejadian serupa terulang. Demi keselamatan, tidak menutup kemungkinan akan ada omisi atau penghentian persinggahan kapal di pelabuhan tertentu.

“Kalau kemudian hari ada omisi terhadap pelabuhan tertentu akibat pertimbangan keamanan setelah kasus ini, maka beta mau sampaikan dari sekarang bahwa beta seng bisa berbuat apa-apa. Karena keselamatan kapal, Nakhoda, Perwira, ABK dan seluruh penumpang adalah hal yang paling utama,” katanya.

Keputusan terkait keselamatan pelayaran, lanjutnya, merupakan kewenangan pihak yang bertanggung jawab terhadap operasional dan keamanan pelayaran.

Jangan Karena Ulah Segelintir Orang, Masyarakat Luas yang Dirugikan
Anggota DPRD Provinsi Maluku Anos Yeremias menyayangkan jika karena emosi sesaat dari segelintir orang, pelayanan kapal perintis yang sudah diperjuangkan justru terganggu dan masyarakat banyak yang dirugikan.

“Selama ini katong berjuang supaya kapal bisa masuk, kapal bisa sandar. Bahkan kalau ada pelabuhan yang belum dilayani katong terus berjuang supaya bisa dilayani. Karena itu, mari katong jaga pelayanan yang sudah ada,” ajaknya.

“Jangan karena emosi sesaat, masyarakat satu pulau atau satu daerah harus menanggung akibatnya.”

Anos berharap peristiwa ini menjadi pelajaran serius bagi seluruh masyarakat agar menjaga ketertiban dan menghormati para petugas yang melayani di laut.

“Beta manusia biasa. Ada saatnya beta juga lelah dan kecewa. Beta hanya mau ingatkan satu hal: mari katong jaga bersama,” pungkasnya.

(Chey)