
ABORU, MALTENG – beritasumbernews.com – Kelakuan Kepala Sekolah SD Negeri 192 Aboru Maluku Tengah, Maritje Leuhery, semakin menjadi-jadi dan tidak bisa ditolerir.
Sejak jadi Kepsek, Maritje Leuhery pakai tenaga operator dari Pelauw sampai saat ini, dengan alasan klasik dan menghina warga Aboru: di Aboru tidak ada yang tau main komputer.
“Maritje Leuhery sejak jadi Kepsek SD 192 Aboru itu pakai tenaga operator dari Pelauw sampai saat ini. Dengan alasan di Aboru tidak ada yang tau main komputer,” ujar sumber terpercaya kepada redaksi Ambonkitanews.com.
BENTUK PANITIA SILUMAN DI PELAUW, DEWAN GURU DITENDANG
Tidak hanya itu, Maritje Leuhery juga membentuk panitia tanpa rapat atau koordinasi dengan dewan guru. Dan pembentukan panitia itu juga dilakukan di Pelauw, bukan di Aboru.
“Maritje Leuhery tidak sependapat dengan dewan guru, karena pada waktu jam sekolah Maritje tidak pernah buat pertemuan dengan dewan guru, dia hanya duduk dan diam di dalam ruangan miliknya,” ujar sumber yang enggan diberitakan namanya.
MAU LAPOR PEMRED? SILAKAN, BIAR PENCURIAN DANA BOS TERBONGKAR
Ironisnya, terkait pemberitaan Ambonkitanews.com yang membongkar dugaan mark-up dan ketidaktransparanan, Maritje Leuhery malah mau melapor Pemimpin Redaksi media Ambonkitanews.com.
Mendengar ancaman itu, sumber justru menantang balik.
“Disitu sumber mengatakan kepada Maritje Leuhery bahwa silakan lapor supaya ose punya makang pancuri dana BOS tu akang terbongkar,”_ ungkapnya.
DESAK KEJAKSAAN SERET, PAPAN PROYEK DISEMBUNYIKAN DI ATAP SENG KELAS 6
Dewan guru beserta orang tua murid kini sudah muak dan meminta Kejaksaan segera memanggil Maritje Leuhery untuk diperiksa dan melanjutkan penyelidikan serta segera mengangkat kembali kasus Dana BOS Kepsek SD 192 Aboru.
“Dewan guru beserta orang tua murid meminta kejaksaan segera memanggil Maritje Leuhery untuk diperiksa, dan melanjutkan penyelidikan dan segera mengangkat kembali kasus Dana BOS,” tegas sumber,
(Ambon 02/10/2026.)
Kecurangan lain yang paling mencolok adalah soal papan proyek rehab sekolah. Bukannya dipasang di dinding sekolah yang terlihat jelas, malah disembunyikan.
“Dewan guru dan orang tua murid juga meminta Maritje Leuhery agar memasang papan proyek rehab sekolah itu di dinding sekolah bukan sembunyikan akang di balik atap seng kelas 6,” pungkas sumber dengan nada geram.
Hingga berita ini dipublikasikan, Maritje Leuhery masih bungkam. Ambonkitanews.com masih membuka ruang hak jawab.
Jika Kadis Pendidikan Malteng dan Kejari Malteng diam, berarti ikut merestui kejahatan pendidikan di Aboru
(bsn01)
