MBD,beritasumbernews.com
Meski pemerintahan Presiden Joko Widodo menggencarkan pemberantasan korupsi dan tindak pidana lainnya seperti suap dan pungutan liar (Pungli), namun aksi itu tak membuat orang merasa takut, malahan korupsi, pungli dan suap makin merajalela.

Di Atas Kapal KM Pangrango, dugaan pungli mulai tercium, Tiket penumpang kapal Pelni, kini ditambah pungutan lain yang tak jelas arahnya.

Sejumlah penumpang dengan berbagai tujuan, terutama ke Kabupten Maluku barat Daya, menjadi sasaran empuk oknum di bagian loket penjualan tiket resmi.

Umumnya calon penumpang yang disasar adalah mereka yang takut kehabisan tiket sehingga tidak peduli berapapun harganya, yang penting bisa berangkat.

Sasaran lain adalah calon penumpang yang terburu-buru hendak naik kapal, Dan yang paling empuk adalah ibu – ibu yang membawa barang sambil mengawasi anak kecil, Mereka ini karena harus membagi perhatian akhirnya tidak meneliti tiket yang dibelinya, Namun dugaan praktik pungli ini pelan-pelan muali terkuak.

Seperti yang dituturkan Salah Satu Penumpang atas Nama Iman Pattipelohy Lewat Akun Facebooknya Empat Jam Lalu, yang membeli tiket kapal laut KM Pangrango Dengan Tujuan Moa Ke Tepa beberapa waktu Lalu, Sempat beradu Mulut dengan ABK Karena Merasa tidak Puas Dengan Tiket yang Dibayar Karena Sesuai Daftar yang Tertera Pada Tiket Dari Pihak PT Pelni adalah Rp.77.000 Namun selama ini Pihak ABK Kapal Menjual Tiket dengan Harga Rp.90.000 Ini merupakan Pungli karena kalau untuk Satu orang itu kelibihan Rp.13.000 sehingga kalau dikalikan Dengan Ratusan penumpang Maka Pihak Kapal bisa Mendapatkan keuntungan Yang besar Dengan Bukti yang ada kita akan Pertanyakan Hal ini Ke PT Pelni. Kata Iman dengan Nada Tegas.

Lanjut Iman Awal beroperasi KM Pangrango Dari Ambon Dengan Rute terakhir Di Kupang Pulang Pergi Namun Dengan adanya Praktek Nakal yang dilakukan Pihak Kapal sehingga Sudah sekitar tiga tahun KM Pangrango tidak lagi dengan Rute kupang Karena Laporan Dari Pihak Kapal Ke PT Pelni bahwa tidak ada penumpang.

Ketika sedang terjadi ‘debat’ antara Iman dengan petugas di loket penjualan tiket, datanglah seorang bapak berpakaian Putih Entah petugas loket atau Perwira Kapal, tidak diketahui pasti. “Biasanya dibayar segitu Pak, selama ini memang segitu. Sudah biasa untuk biaya Administrasi “ujarnya wajah Ketakutan.

Iman berharap agar praktik pungli seperti ini segera diberantas. Bayangkan jika penumpang kapal itu mencapai ribuan orang, berapa besar uang yang mereka keruk, Yang dilakukan Selama ini, Berapa ratus juta yang masuk kantung oknum-oknum itu,” tandasnya.

Belum lagi biaya tiket yang di bayar Tampa mendapatkan bukti tiket, hanya mencatat pada penggalan kertas putih yang di catat setiap petugas Kapal dengan biaya yang berfariasi. (Janes)