Ambon,beritasumbernews.com,Pembentukan tim atlet taekwondo Maluku untuk di turunkan ke ajang Pra-Pon Jakarta menuai sorotan tajam dari semua pihak bahkan sampai ke publik.
Hal ini juga di soroti secara khusus dari pelatih taekwondo Kepulauan Aru yang juga adalah orang tua atlet dari salah satu atlet berprestasi yang jadi langganan emas di setiap Kejuaraan taekwondo di Maluku, baik Popmal maupun sampai ke Surabaya, yakni Peros Tomasoa.
Kepada wartawan media ini via telpon seruler-nya Ongen Tomasoa yang di hubungi menyampaikan” sebagai pribadi, pelatih, dan bahkan orang tua atlet, tidak merasa senang dengan keputusan Pengprov TI Maluku terkait pembentukan Tim atlet taekwondo menuju Pra-Pon Jakarta yang di gelar pada 27-31 Oktober 2023 ini. Ungkapnya
Pasalnya” ada indikasi kuat nepotisme yang di lakukan baik itu ketua harian taekwondo Maluku yang di duga membangun kerja sama dengan ketua taekwondo Maluku Hengki Pelata bahkan sekertaris Pengprov TI Maluku.
Katanya” apa yang di lakukan itu sangat tidak sesuai, disinyalir salah prosedur, dan bertentangan dengan apa kata AD RT taekwondo Indonesia.
Lanjutnya” yang di ketahui dalam komunikasi yang di lakukan oleh ketua harian dan ketua Pengprov TI Maluku itu hanya lewat via Zoom bukan ketemu secara organisasi, sehingga apa yang mereka atur ya mereka saja sementara sejumlah atlet yang berprestasi mereka tidak libatkan.
Salah satu korban adalah Peros Tomasoa yang adalah atlet langganan emas pada setiap ajang kejuaraan taekwondo, bahkan berhasil membawa emas di Popmal 2022 yang jelas – jelas itu adalah ajang seleksi menuju Pra-Pon.
Tomasoa juga mengatakan” bukan saja Peros Tomasoa namun ada beberapa atlet terbaik pun jadi korban nepotisme yang di lakukan, bahkan ada beberapa atlet Malteng dari Dojang Waiselaka yang berhasil di Popmal 2022 itu pun tidak di perhitungkan oleh Pengprov TI Maluku.
Kami merasa Pengprov ini tidak bertanggung jawab, dan tidak lagi bisa di pertahankan, karena hemat kami sepanjang Pengprov TI Maluku ini dalam masa jabatan baik ketua harian, maupun ketua Pengprov TI Maluku menciptakan polimik dan rasa tidak nyaman pada para pelatih. Ungkapnya
Tomasoa menambahkan bahwa” pola organisasi yang ada di Pengprov TI Maluku tidak berpusat di Maluku yang mana ketua harian dan bendahara malah berpusat di luar Maluku yakni di Tangerang Provinsi Banten. Beber Tomasoa
Yang anehnya setiap kali pertemuan – pertemuan yang di buat oleh ketua harian dengan pengurus di Kabupaten itu hanya lewat zoom mething, sementara untuk penentuan atlet Pra-Pon ini itu sebenarnya harus balai pimpres, ketua dan ketua harian, guna membahas potensi San peta kekuatan. Sebut Tomasoa
Sistim pembentukan tim ini tidak secara merata, sehingga ajang seleksi pada Popmal yang di selenggarakan oleh pihak Koni itu tidak terpakai, hal ini di duga ada persyaratan secara sepihak yang di menina bobokan sebagian pengurus kabupaten. Jelas Tomasoa
Bahkan keputusan yang di ambil oleh ketua harian Pengprov TI Maluku dan ketua Pengprov TI Maluku pada salah satu atlet Kepulauan Aru, yang semua orang tahu sepakterjang atlet tersebut yang mana keputusan ketua harian itu sepihak dan sangat mengecewakan.
Di katakannya” atlet yang menjadi langganan emas sejak 2017, hingga saat ini, Tampa ada pemeriksaan kesehatan kenapa bisa ketua harian Pengprov TI Maluku mengatakan bahwa yang bersangkutan mengalami cidera ? Ini sebuah pembohongan administrasi dan pembohongan terhadap publik. Geram Tomasoa
Tomasoa mengecam keras sikap dan perbuatan yang di lakukan oleh Ketua harian dan Pengprov TI Maluku dan ketua Pengprov TI Maluku merugikan para atlet prestasi. Pungkasnya
Bukan hanya indikasi nepotisme yang di lakukan pengprov TI Maluku yang merugikan para atlet prestasi, namun juga kinerja buruk pengprov TI Maluku pada UKT Dan Kukkiwon yang sudah mencapai dua tahun tidak ada informasi apapun. Cetus-nya (V374)
