AMBONberitasumbernews.com – Terdapat sedikitnya 39 dewan guru dan pegawai negeri sipil yang diperbantukan pada SMA Negeri 1 Ambon diminta membubuhkan dukungan tandatangan.

Maksud dan tujuan isi surat itu adalah agar, Plt Kepala SMA Negeri 1 Ambon, Leonora Wemay, M.Pd sebagai kepala sekolah definitif.

Surat permohonan dukungan itu, pertama ditujukan kepada Ketua DPRD Provinsi Maluku, dan tembusannya kepada Yth Ketua Komisi C, Kepada Yth Kepala BKD dan Kepada Yth Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku. Hanya saja nomor surat penggalangan dukungan itu, tidak tertera hari, tanggal dan tahunnya.

Kendati begitu, media ini juga menerima surat penolakan dari sejumlah besar dewan guru yang menolak Kepemimpinannya. Para dewan guru menilai, Leonora Wemay dianggap otoriter dan kurang komunikatif, serta kurang adaptasi dengan dewan guru lainnya dianggap bertentangan dengan Kepemimpinannya. Kondisi yang tercipta saat ini, dianggap mengganggu jalannya proses belajar mengajar.

“Terhitung sejak Penetapan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMA Negeri 1 Ambon oleh Plt Gubernur Maluku tertanggal 14 Pebruari 2025 telah menimbulkan keresahan dan rasa tidak nyaman para guru dan pegawai sebagai akibat terciptanya pola kepemimpinan yang otoriter dan yang berpusat pada diri sendiri yang membuat kondisi sekolah terasa sangat tidak nyaman yang berimplikasi terjadinya gangguan terhadap proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Kondisi Nampak antara lain :
Sejak ditetaplkan sebagai Plt sampai hari ini tidak pernah mengumpulkan para wakil Kepala sekolah untuk berkordinasi dalam melaksanakan kegiatan di sekolah, tetapi semua dilakukan ikut maunya Plt .
Sudah dua kali rapat guru dan pegawai tidak pernah berkordinasi dengan wakil Kepala sekolah malah mengancam para guru dan pegawai.

“ Bahwa siapa yang tidak mau kerja sama dengannya akan DILENSERKAN tidak tahu dialamatkan kepada siapa.
Mengarahkan beberapa guru untuk membuat surat permohonan kepada bapak Gubernur agar yang bersangkutan ditetapkan sebagai Kepala sekolah DIFINITIF, sementara yang bersangkutan selama menjadi guru tidak pernah menjadi wakil Kepala sekolah, belum pernah mengikuti seleksi calon Kepala sekolah apalagi memiliki sertifikan calon Kepala sekolah serta bukan guru penggerak yang merupakan syarat untuk dicalonkan sebagai Kepala sekolah, “jelas isi surat kebaratan yang diterima redaksi media ini, Minggu (23/03/25) sore.

Bahkan kalangan dewan guru menilai, dengan adanya permohonan dukungan itu telah menimbulkan pengelompokan guru dan pegawai dalam beberapa kelompok. Ini seakan menegaskan kalau telah tercipta harmonisasi diantar dewan guru dan pegawai.

“Dengan adanya surat dukungan ini, terjadi perpecahan dalam sekolah dan ini sangat mengganggu dinamika Pendidikan dan pembelajaran sehingga yang dirugikan adalah siswa.
Telah mengarahkan Pengurus OSIS khusus yang beragama Kristen Protestan untuk melakukan DOA buka usbuh Senin pagi dan tutup usbuh Jumat jam 6.30.00 wit tanpa berkordinasi dengan Wakasek Kesiswaan dan Pembina OSIS. Sementara di SMA Negeri 1 Ambon terdapat 5 Agama. Pada sisi yang lain OSIS melaksanakan kegiatan berdasarkan hasil rapat kerja (RAKER) Dimana program kerja OSIS untuk semua agama ibadah/sembahyang Bersama Tiap hari Jumat dan bukan atas maunya Guru atau Kepala sekolah.
Menjadikan sekolah ibarat tempat KKR oleh kelompok doanya sampai larut malam.
Menjadikan kegiatan-kegiatan siswa di sekolah untuk membuat KONTEN lalu diposting di Tik Tok “ Mama Nor “ yang adalah Plt Kepala SMA Negeri 1 Ambon, “Lanjut point-poin keberatan dari surat ini.

Kondisi ini jika dibiarkan dan tidak segera dievaluasi maka sudah pasti naama besar SMA Negeri 1 Ambon sebagai sekolah FAVORIT akan hancur dan yang rugi adalah anak-anak kita siswa SMA Negeri 1 Ambon.

Sementara itu, Plt Kepsek SMA Negeri 1 Ambon, yang dikonfirmasi terkait dengan adanya surat keberatan ini belum bisa menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan.

Leonara Wemay S.Pd.M.Pd enggan tidak bersedia mengangkat sambungan telepon dan wa. Bahkan informasi yang didapat belum lama ini, Wemay atas kekuasaannya sebagai pelaksana tugas, mengkanvaskan salah satu wakil kepala sekolah yang tidak sepaham dengannya. Sumber-sumber anonim yang bisa dipercaya menyebutkan kalau Wemay adalah pendukung setia ibu Widya Murad Ismail pada pileg 14 Februari 2024 lalu. (***)