Ambonberitasumbernews.com – Pembangunan asrama dua lantai untuk Seminari Xaverianum Ambon yang didanai melalui anggaran pemerintah sebesar Rp 14 miliar, menuai sorotan tajam dari Penanggung jawab Teknis Pelaksanaan Seluruh Pembangunan Keuskupan Amboina di Desa Air Louw, Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon, RD Agus Ulhayanan, menyatakan kekecewaannya terhadap kualitas pekerjaan, perubahan perencanaan tanpa persetujuan, hingga indikasi pemborosan anggaran yang signifikan.

Proyek ini dibangun di atas lahan milik Keuskupan Amboina, dan proses perencanaannya telah melibatkan berbagai pihak sejak awal,”namun realisasi di lapangan menunjukkan ketidaksesuaian yang mencolok dengan rencana awal, Mulai dari bahan bangunan yang dinilai sangat buruk, hilangnya beberapa fasilitas utama seperti kamar untuk pembina dan pembantu, hingga sistem air dan sanitasi yang disebut tidak layak, menjadi sederet persoalan yang kini tengah dipersoalkan.

“Saya ikuti rapat perencanaan sampai di Jakarta. Tapi yang terjadi di lapangan ini sudah beda bumi dan langit,” kata RD Agus Ulhayanan.

Ulhayanan menegaskan bahwa bahan-bahan bangunan seperti pintu, jendela, hingga seng atap sangat tidak layak, bahkan beberapa material sudah rusak sebelum digunakan,” Ia juga mempertanyakan penghapusan sejumlah item penting dari rencana awal dengan alasan pemangkasan anggaran.

“Kata Ulhayanan; Belum dipakai saja, bahan-bahan ini sudah rusak. pelaksana mulai pusing karena pihak pengawas sudah datang, ambil foto, mungkin akan menyurati mereka. Pemasangan air saja bermasalah, jalur air tidak rata. Kualitas kerja paling buruk,” tegas Romo Agus.

Dalam catatan Romo Agus, proposal awal yang diajukan oleh tim perencanaan Keuskupan hanya sebesar Rp 6 miliar. Namun, setelah perjuangan panjang, nilai anggaran naik menjadi Rp16 miliar. Sayangnya, hanya Rp14 miliar yang direalisasikan, itu pun banyak item yang dihilangkan.

Pihak Keuskupan juga keberatan atas perubahan struktur bangunan, dari semula direncanakan satu lantai per unit menjadi dua lantai yang dipadatkan.
Padahal, kebutuhan pendidikan seminari memiliki spesifikasi yang berbeda dari sekolah umum, seperti kebutuhan, kamar mandi dalam setiap kamar, ruang pembina, ruang doa, dapur, dan aula.

“Kamar pembina dan kamar pembantu tidak dibuat. Itu berdampak langsung ke pengelolaan asrama karena mereka (para pembina) seharusnya tinggal di dalam untuk mendampingi anak-anak,” tambahnya.

Salah satu keputusan teknis yang sangat disesalkan adalah pemindahan bak penampungan air, dalam perencanaan awal, bak ditempatkan di dataran tinggi agar aliran air mengandalkan gravitasi.

Namun dalam pelaksanaan, bak dipindahkan ke dataran rendah dan menggunakan pompa besar yang dinilai tidak efisien dan berisiko menyiksa pengguna dalam jangka panjang.

“Pompa besar itu bukan solusi, itu siksaan bagi pengguna, “Padahal gravitasi lebih alami dan murah, Itu semua tidak pernah dibahas dalam perencanaan awal,” ungkap Romo Agus

Romo Agus juga menyesal dengan ketidak terlibatan-nya Keuskupan dalam perubahan desain dan teknis di tengah jalan, menurutnya, sebagai pemohon dan penerima manfaat, Keuskupan memiliki hak untuk dilibatkan secara menyeluruh dalam proses pelaksanaan proyek.

“Saya sudah tegas, kalau tidak sesuai tata ruang dan kesepakatan awal, saya tidak izinkan lahan dipakai. Ini tanah kita, proyek ini hadir karena permintaan kita, tapi kenapa dalam pelaksanaan suara kita diabaikan?” tanya Romo Agus.

Dengan rasa kesal Romo Agus meminta aparat penegak hukum TNI/POLRI,Kejaksaan turun dan sekaligus meninjau,untuk mengusut dugaan penyimpangan proyek ini.

“Saya malah bersyukur kalau Kejaksaan datang periksa, supaya bola ini bergulir ke publik. Daripada saya yang ribut dan tolak proyek ini,” tegasnya.

Romo juga menegaskan proyek-proyek infrastruktur berbasis pelayanan pendidikan keagamaan ini patut diperketat demi memastikan anggaran negara yang digunakan secara tepat dan hasilnya bermanfaat dan maksimal.

Beberapa sumber informasi awal yang diterima media ini mengungkapkan kalau proyek untuk pendidikan para calon pastor ini, sejak dilakukan tender seakan dipaksakan dan atau diupayakan ke pihak terkait untuk mengerjakannya.

Padahal sejak proyek ini dilobi ke kementerian misalnya ada peran dan pendampingan, namun ketika proyek ini dikerjakan oleh PT Nailaka, ada yang mengundurkan diri karena terjadi perbedaan pendapat soal siapa yang dimenangkan dalam proses lelang. Alasannya sederhana mengapa musti PT Nailaka, bukankah beberapa proyek yang ditangani sering bermasalah. Tapi upaya demi upaya dilakukan untuk proyek ini Dimenangkannya ketika proses lelang dilaksanakan oleh BP2JK.

Tentu ini menjadi dasar pertanyaan. Sikap pengunduran diri dari beberapa pihak tidak terlepas dari sepak terjang PT Nailaka dalam menangani proyek APBN terkadang abaikan kualitas.

Alhasil,…ketika proyek ini diserahkan kepada pihak Keuskupan pada tanggal 23 April 2025 lalu, Pekerjaan fisik bangunan sangat diragukan

Proyek dengan pihak pelaksana PT Nailaka Indah milik Haji Mansur ini proses lelang di BP2JK, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XVI Ambon. Proyek ini dilaksanakan pada bulan Juli 2024 dengan dua unit bangunan serta beberapa komponen unit bangun terkecil dan sudah selesai dikerjakan pada tanggal 15 Februari 2025, hingga pada proses penyerahan dari pihak kontraktor ke Balai Prasarana Strategis dan kemudian secara simbolis diberikan kepada Keuskupan Amboina pada tanggal 23 April 2025. Sumber resmi Balai Prasarana Strategis kepada media ini, Senin (21/7/25)

“Proses pekerjaan dilakukan pada Juli 2024, ada dua bangunan ada Aula asrama sudah diserahkan ke KeUskupan Amboina, 23 April 2025 dan selesai dikerjakan pada tanggal 15 Februari 2025 dan saat ini berada pada pemeliharaan sampai 09 februari 2026, ” kata salah satu sumber terpercaya pada Balai Prasarana Strategis. Kendati gedung dua lantai ini berada pada tahap pemeliharaan sampai pada tahun depan tapi yang sangat mengkhawatirkan pihak penggelolah kedepan, bakal direpotkan, pasalnya gedung baru selesai dikerjakan tapi kualitasnya bahan yang digunakan sangat diragukan kualitasnya lantaran beberapa ruangan alami rembesan, termasuk konsen pintu dan jendela nampak kalau pengadana bahannya tidak berkualitas.

“Wajar saja kalau pihak Penanggung jawab Teknis dan Pelaksanaan Seluruh di Keuskupan Amboina di Air Louw, RD Agus Ulhayanan mendesak perlunya ditinjau kembali perencanaan gedung dua lantai itu, ” ingat RD Agus Ulahai. Permintaan itu untuk mengetahui benar’ tidaknya penyediaan bahan sesuai mekanisme perencanaan atau tidak.

Menurut sumber ini juga mengakui kalau ketika hasil peninjauan lapangan ditemukan beberapa kerusakan, tapi sudah diperbaiki, setelah PT Nailaka disurati dan mereka telah memperbaiki, kendala yang dihadapi, pintu rembesan dari kosen, kalau silikon tidak rapat terjadi rembesan,.dan ” lainnya, ” Kata sumber membenarkan-nya

Pihak pengawas akui kalau proyek APBN Tahun 2024, senilai 14 M itu terdiri dari
aula, asrama, ruang genset, rumah pompa, ground water tank sama lanscape, (penataan kawasan)
“desain master plant agak bagus hanya saja ruangan untuk pimpinan dan kantor, tidak bisa disediakan terkendala efesiensi anggaran, ” ungkap pihak Balai Penataan Bangunan Prasarana dan Kawasan (BPBPK).

Gedung lantai dua yang sudah diserahkan kepada pihak Keuskupan Amboina ini, terdiri dari 18 kamar tidur, sedangkan kamar untuk pembina dan pembantu tidak disediakan. Kendati belum digunakan, beberapa bagian dari gedung ini diperlukan perbaikan dan perawatan. Kekuatiran pihak pengelola dan atau penerima manfaat sempat mengancam untuk tidak menerima gedung tersebut, tapi sayangnya pihak Kontraktor dan pelaksana telah membuat acara serah terima dengan Keuskupan Amboina, pada tanggal 23 April 2025 lalu. (Tim)