
Ambon – beritasumbernews.com – Muhammadiyah memang dikenal sebagai gerakan Islam yang sangat dinamis, tidak hanya dalam bidang dakwah tapi juga dalam *amal usaha* yang luas—dari pendidikan, kesehatan, hingga kesejahteraan sosial.
Turut hadir dalam acara tersebut, Gubernur Maluku, yang di wakili Djalaludin Salampessy, pimpinan Muhammadiyah Maluku, BPH UM Maluku, Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku, kepala Museum Siwa lima Ambon dan Bapak Prof Angga.
Setiap amal usaha itu menyimpan *cerita perjuangan* yang menginspirasi, mulai dari pendirian sekolah-sekolah, rumah sakit, hingga panti asuhan di berbagai penjuru Indonesia, termasuk di Maluku.
Dengan kekayaan sejarah dan amal usaha tersebut, Muhammadiyah terus berupaya menjawab tantangan zaman sambil tetap setia pada nilai-nilai dasarnya.
Jika kisah-kisah perjuangan itu tidak didokumentasikan dengan baik, kita berisiko kehilangan *mata rantai sanad keilmuan* dan *keikhlasan para pendahulu*. Sanad bukan hanya tentang transmisi ilmu, tapi juga tentang teladan dan semangat pengorbanan yang menjadi fondasi bagi generasi selanjutnya.
Buku-buku sejarah, arsip, dan dokumentasi lainnya berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sehingga nilai-nilai luhur tetap hidup dan bisa diamalkan. Itulah mengapa upaya penulisan dan pelestarian sejarah seperti buku “1928 Maluku Muhammadiyah” sangat penting.
Buku “1928 Maluku Muhammadiyah: Sejarah Dinamika dan Pergerakan Muhammadiyah di Maluku” menjadi bukti otentik bahwa Muhammadiyah di Maluku telah memberikan kontribusi signifikan dalam *bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan umat.
Dengan dokumentasi yang kuat, kita bisa melihat bagaimana amal usaha Muhammadiyah—dari sekolah, klinik, hingga program pemberdayaan ekonomi—telah membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Maluku. Ini bukan hanya catatan sejarah, tapi juga inspirasi bagi kita semua untuk terus melanjutkan misi tersebut.
Kami berharap buku ini tidak hanya menjadi pajangan di rak, tetapi menjadi sumber rujukan primer bagi kader, akademisi, dan masyarakat luas yang ingin memahami peran Muhammadiyah dalam konteks keindonesiaan, khususnya di Maluku.
Dengan demikian, nilai-nilai sejarah dan perjuangan yang terkandung di dalamnya bisa terus hidup, dikaji, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Buku semacam ini memperkuat identitas kolektif dan menjadi panduan untuk melanjutkan misi kemaslahatan umat.
(Chey)
