AMBON,-beritasumbernews.com – Peringatan HUT ke-81 Provinsi Maluku tahun ini mengusung tema “Maluku Bersatu, Maju, Membangun Negeri”.

Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menegaskan, hari ulang tahun tidak boleh berhenti sebagai seremoni. Momentum ini harus jadi refleksi untuk melihat ke belakang dengan hormat, melihat hari ini dengan tanggung jawab, dan menatap masa depan dengan keberanian.

“Pertanyaan kita bukan hanya apa yang telah kita capai, tetapi yang lebih penting Maluku seperti apa yang akan kita bentuk. Maluku seperti apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita,” ujar Gubernur saat menyampaikan sambutan pada upacara HUT ke-81 Provinsi Maluku.

Gubernur menyebut Maluku dibangun di atas keberagaman. Banyak pulau, negeri, desa adat, budaya dan tradisi, namun memiliki satu rumah besar yaitu Maluku dan satu identitas kebangsaan yaitu Indonesia.

“Perbedaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan. Perbedaan harus menjadi kekuatan. Semangat Gandong, ikatan Siwalima, dan hidup orang basudara harus terus kita hidupkan. Boleh berbeda pilihan, tapi jangan berbeda tujuan,” tegasnya.

Maluku tidak boleh hanya dikenal karena keindahan alam dan sejarah perjuangan. Maluku harus menjadi provinsi kepulauan yang maju, produktif dan sejahtera.

Pembangunan harus diarahkan pada transformasi ekonomi: kelautan dan perikanan, pertanian, pariwisata, industri pengolahan, UMKM dan ekonomi kreatif.

“Kekayaan alam Maluku tidak boleh hanya menjadi angka dalam statistik. Kekayaan Maluku harus berubah menjadi kesejahteraan bagi rakyat Maluku,” katanya.

Gubernur juga menekankan pentingnya mengawal program strategis nasional seperti Blok Masela, pembangunan bendungan, ruislag bandara, dan hilirisasi sumber daya agar memberi manfaat nyata.

Di saat yang sama, pembangunan manusia harus jadi prioritas. “Pendidikan, kesehatan, peningkatan keterampilan, penguatan karakter dan inovasi generasi muda harus tetap menjadi prioritas,” ujarnya.

Menurut Gubernur, membangun Maluku bukan pekerjaan pemerintah saja. Ini pekerjaan bersama: pemerintah, DPRD, dunia usaha, perguruan tinggi, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, perempuan, media dan seluruh masyarakat.

“Saya mengajak seluruh jajaran pemerintah untuk terus memperkuat kolaborasi dan meninggalkan ego sektoral. Pemerintah harus hadir dengan pelayanan yang cepat, bersih, transparan dan berpihak kepada masyarakat,” tegasnya.

Setiap rupiah harus memberi manfaat nyata. “Setiap kebijakan harus bermuara pada satu pertanyaan: Apakah rakyat menjadi lebih sejahtera? Jika belum kita perbaiki, jika tidak bermanfaat kita evaluasi,” ujarnya.

Gubernur menyadari tantangan ke depan masih besar: kemiskinan, pengangguran, ketimpangan antar wilayah, keterbatasan konektivitas dan kapasitas fiskal.

“Tetapi saya percaya kita tidak boleh takut. Sebab Maluku memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari tantangan itu, yakni persaudaraan dan ketangguhan orang Maluku,” katanya.

Ia mengajak seluruh anak negeri dari Buru sampai Haruku, dari Seram sampai Tanimbar, dari Banda sampai Maluku Tenggara, dari MBD sampai Kota Ambon untuk menyatukan langkah.

“Apa yang kita nikmati hari ini adalah warisan dari generasi sebelumnya. Dan apa yang kita kerjakan hari ini akan menjadi warisan bagi generasi sesudah kita. Jangan sampai generasi kita hanya dikenal sebagai generasi yang menikmati Maluku. Jadilah generasi yang meninggalkan sesuatu untuk Maluku,” pungkas Hendrik Lewerissa.

Dirgahayu ke-81 Maluku Tercinta. Beta Maluku, Beta Indonesia. Merdeka!

(Chey)