
AMBON – beritasumbernews.com –Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena mengajak para pelajar untuk berani bermimpi, menetapkan cita-cita, dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan untuk meraih masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Wattimena saat memberikan motivasi kepada siswa-siswi SMA, SMP, Madrasah Aliyah (MA), dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dalam kegiatan literasi keuangan di Ambon, Kamis (3/9/2026).
Dalam kesempatan itu, Wattimena membagikan kisah masa kecilnya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang turut membentuk dirinya hingga berada pada posisi saat ini.
Ia mengatakan, setiap orang memiliki pengalaman masa kecil yang berbeda. Sebagian mungkin menjalani masa kecil dengan penuh kebahagiaan bersama keluarga, sementara yang lain harus menghadapi keterbatasan dan membantu orang tua memenuhi kebutuhan keluarga.
“Waktu kecil, saya pernah berjualan kue untuk membantu orang tua membiayai pendidikan. Saya juga pernah mengumpulkan pasir di kali. Waktu itu pasir masih banyak, sampai tulang belakang terasa sakit. Tetapi itulah bagian dari masa kecil dan perjalanan hidup,” ungkapnya.
Menurut Wattimena, berbagai pengalaman tersebut mengajarkan arti kerja keras, ketekunan, tanggung jawab, dan perjuangan dalam menjalani kehidupan.
Ia kemudian mengajak para pelajar mengingat kembali pertanyaan yang kerap diberikan guru ketika masih duduk di bangku sekolah, yakni mengenai cita-cita mereka.
“Kalau kita ditanya, besok-besok mau jadi apa, jawabannya macam-macam. Ada yang mau menjadi presiden, gubernur, wali kota, tentara, polisi, dan sebagainya,” katanya.
Wattimena menilai tidak seorang pun dapat memastikan seperti apa kehidupan mereka dalam 10, 20, bahkan 30 tahun mendatang. Namun, cita-cita yang ditanamkan sejak kecil dapat menjadi motivasi untuk terus belajar dan melakukan berbagai hal positif.
“Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan 10, 20, atau 30 tahun ke depan. Tetapi apa yang kita ucapkan itu paling tidak menjadi motivasi bagi kita untuk melakukan berbagai hal supaya pada waktunya kita bisa mencapainya,” ujarnya.
Ia menegaskan, memiliki cita-cita bukan semata-mata tentang mengejar jabatan atau profesi tertentu. Lebih dari itu, setiap orang perlu memiliki keinginan untuk menjadi pribadi yang membanggakan orang tua dan memberikan manfaat bagi orang lain.
“Keinginan saya waktu kecil, ketika dewasa nanti yang pertama adalah membanggakan orang tua. Yang kedua, berguna bagi orang lain,” tuturnya.
Wattimena juga mengingatkan bahwa perjalanan menuju cita-cita tidak selalu berjalan mulus. Setiap orang akan menghadapi tantangan, persoalan, kegagalan, kritik, rasa lelah, ketakutan, bahkan keputusasaan.
Karena itu, para pelajar diminta mempersiapkan diri menghadapi berbagai dinamika kehidupan dan tidak menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.
“Jalan menuju mimpi tidak mudah. Satu bulan saja kita beraktivitas pasti ada tantangan, masalah dan hambatan. Apalagi kita punya mimpi yang ingin diwujudkan 10, 20, bahkan 30 tahun ke depan,” jelasnya.
Menurut Wattimena, kesulitan justru harus dijadikan pengalaman untuk membentuk pribadi yang lebih kuat.
“Kesulitan bukan tanda bahwa kita harus berhenti berusaha dan berhenti bermimpi. Tetapi kesulitan harus menjadi motivasi. Ketika kita menghadapi tantangan dan berbagai permasalahan, itu harus menguatkan kita supaya terus bergerak dan menggapai harapan serta cita-cita,” tegasnya.
Wattimena juga membagikan sejumlah pengalaman lain sejak dirinya duduk di bangku sekolah dasar. Ia menceritakan proses pendidikan, pengalaman bersama keluarga, serta berbagai tantangan yang dihadapi sejak kecil hingga membentuk perjalanan hidupnya.
Kisah tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi para pelajar bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Untuk meraih masa depan yang diimpikan, dibutuhkan proses, kerja keras, ketekunan, keberanian, dan kemauan untuk terus bangkit ketika menghadapi kegagalan.
(Chey)
