Banda,beritasumbernews.com
Banda naira akan menggelar festival adat dan budaya bertajuk festival lewetaka 2021 festival akan di buka pada senin (14/11).

Pelaksanaan festival tersebut di laksanakan di pulau naira untuk merawat tradisi dan kearifan lokal banda, sekaligus melastarikan lingkungan laut dan pesisir sebagai kekayaan bahari banda naira.

Festival lewataka merupakan kolaborasi bersama yayasan EcoNusa Molucca Coastal Care (MCC) STP Hatta Sjahrir ,STKIP Hatta Sjahrir dan Yayasan Warisan dan budaya banda naira dan komonitas pemuda banda.

Rangkaian Festival lewetaka 2021 dengan narasumber Saiful Karimen ketua panitia Festival lewetaka. dr Mohamat Farid .M.Sos ketua STP dan STKIP Hatta Sjahrir dan Abba Rizal Bahalwan orlima besar kampung Adat Namasawar.

Banda Naira dan kepulauan sekitarnya tidak hanya kaya akan kekayaan laut dan rempah rempah, tapi juga kaya akan adat budaya dan sejarah, namun perkembangan pembangunan di sekitar banda yang cukup pesat mempengaruhi keberadaan adat budaya dan sejarah tersebut.

Tradisi lokal terancam hilang bahasa dan ritual budaya terkikis perlahan, hak hak ulayat dan situs situs adat banyak yang hilang .

Dr Mohamat Farid .M.Sos mengatakan bahwa ide festifal lewetaka 2021 ini berawal dari sebuah keresahan batin atas kondisi riil lingkungan Alam Banda yang semakin terancam seiring dengan itu tantangan sosial budaya bagi masyarakat adat banda juga perlu segera di jawab ungkapnya.

Menurut Farid kegiatan kegiatan pariwisata di banda harusnya lebih berorientasi oada jawaban atas permasalahan di masyarakat. Festival harusnya bukan sekedar seremonial terapi juga dapat menjawab tentangan dan masalah sekaligus yang memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan alam banda.

Sementara itu, ketua panitia Festival Saiful Karmen optimis kegiatan ini akan menjadi tonggak bangkitnya kembali adat dan budaya di Banda Naira,” kita berharap dengan adanya kegiatan ini akan menjadi mengukuhkan Banda sebagai Wilayah adat jika kita mampu menjaga dan melestarikan adat Banda, maka Maka secara otomatis kita akan menjaga lingkungan alam Banda itu sendiri.”

Berbagai ritual adat dan pernak pernik budaya Banda akan di sunguhkan.Mulai dari ritual kasih mandi belang , ritual kasih mandi laut, tarian cakalele, ritual putar tampa sirih tidak hanya itu ada juga kegiatan kegiatan kreatif anak banda, Sketch Walk dengan sketsa yang bertemakan alam dan adat Banda juga ada aksi drama dan musikalisasi puisi.

Rizal Bahalwan mengatakan bahwa kegiatan ini memang sengaja di fokuskan di pulau Naira.

Itulah ,” mengapa kita namakan Festival lewetaka karna dulunya pulau Naira ini di kenal sebagai wilayah adat kerajaan Lewetaka yang pada kurun masa selanjudnya membagi wilayahnya membagi wilayanya membagi tiga yaitu Namasawar, Fiat, dan Ratou.

Namasawar dan Fiat masing masing di pimpin oleh laki laki sementara Ratou yang di pimpin oleh seorang perempuan (RATU) ketiga penguasa pulau Naira ini hidup harmoni dalam menjalangkan fungsi pemerintahan.

Menegahkan hukum yang adil dan berwibawa dan mewariskan tradisi lokal secara turun temurun.

Bagi Rizal Festival ini di lakukan untuk menjaga banda dari keeusakan alam dan manusianya. Misi besarnya adalah jaga Banda , maksudnya agar supaya masyarakat Banda maupun wisatawan yang datang dapat turut adil dalam membangun Banda dan masyarakatnya menghargai adat dan agamanya, dan menjaga lingkungannya ini misi utamanya,”

Melihat antusiasme masyarakat Banda Aba Rizal semakin yakin dan bersemangat untuk membuat kegiatan yang lebih besar dengan melibatkan seluruh desa adat di banda naira kedepan nanti.

Sejarah Banda sebagai bagian dari identitas bangsa indonesia dan juga menjaga keletarian lingkungan Banda. tutup Saiful Karmen
(Chey)