
Ambon – beritasumbernews.com Menyongsong peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, semangat mengisi kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga dengan mempersiapkan generasi muda yang tangguh menghadapi tantangan zaman, termasuk ancaman di ruang digital.
Semangat tersebut diwujudkan Panitia Hari-Hari Besar Gerejawi dan Nasional (HBGN) Jemaat GPM Soya Tahun 2026 melalui kolaborasi bersama Polwan Polda Maluku dalam kegiatan sosialisasi tentang cyber bullying dan cyber pornografi bagi anak tanggung dan remaja Jemaat GPM Soya dengan menghadirkan Narasumber Ps. Panit Subdit V Ditreskrimsus Polda Maluku, Iptu Sofia. CH.E Alfons, SH, MH.
Kegiatan ini diikuti sebanyak 227 peserta, yang terdiri dari anak tanggung dan remaja berusia 11 hingga 16 tahun, serta 18 orang pengasuh/pembina Sekolah Minggu Tunas Pekabaran Injil (SMTPI) dari masing-masing sektor pelayanan Jemaat GPM Soya.
Kehadiran ratusan peserta tersebut menunjukkan besarnya perhatian gereja terhadap pentingnya membekali generasi muda sejak dini dalam menghadapi perkembangan teknologi digital. Pada usia 11 hingga 16 tahun, anak dan remaja semakin aktif berinteraksi dengan media sosial dan berbagai platform digital, sehingga membutuhkan pemahaman mengenai etika bermedia sosial, perlindungan diri, kesadaran hukum, serta kemampuan mengenali berbagai risiko di ruang siber.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan generasi muda di era digital, sekaligus momentum menyambut HUT Ke-81 Kemerdekaan RI dengan memperkuat literasi digital, kesadaran hukum, karakter, serta tanggung jawab sosial generasi muda gereja.
Kemerdekaan di era digital, dalam konteks ini, tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan menggunakan teknologi, tetapi juga sebagai kemampuan untuk menggunakan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, menjaga martabat diri, serta tidak terjerumus menjadi korban maupun pelaku kejahatan di ruang siber.
Ketua Seksi Acara Panitia HBGN Jemaat GPM Soya, Dr. Mercy Florence Halamury, M.Pd.K., mengatakan pembinaan generasi muda gereja harus mampu menjawab tantangan perkembangan zaman, termasuk ancaman yang muncul akibat semakin luasnya penggunaan teknologi digital.
“Generasi muda kita hidup dalam dua ruang sekaligus, yaitu ruang nyata dan ruang digital. Karena itu, pembinaan gereja juga harus hadir di ruang digital. Apalagi dalam momentum menyongsong HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kita ingin memaknai kemerdekaan dengan mempersiapkan generasi muda yang merdeka dalam berpikir, tetapi tetap memiliki karakter, iman, kesadaran hukum dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi,” ujar Mercy.
Menurutnya, cyber bullying dan cyber pornografi bukan persoalan sederhana karena dampaknya dapat menyentuh aspek psikologis, sosial, pendidikan, moral, hingga persoalan hukum.
“Kita perlu membangun kesadaran sejak dini bahwa setiap aktivitas di ruang digital memiliki konsekuensi. Apa yang diunggah, dikomentari, direkam maupun dibagikan dapat meninggalkan jejak digital dan berdampak terhadap diri sendiri maupun orang lain,” katanya.
Memaknai Kemerdekaan dengan Ketahanan Generasi Muda di Ruang Digital
Mercy menilai generasi muda merupakan salah satu kekuatan penting dalam menentukan masa depan bangsa. Karena itu, semangat kemerdekaan harus diterjemahkan dalam bentuk pembinaan yang relevan dengan kehidupan generasi saat ini.
Jika dahulu perjuangan mempertahankan kemerdekaan menghadapi ancaman secara fisik, maka generasi saat ini menghadapi tantangan yang antara lain hadir melalui ruang digital. Perundungan, pornografi, manipulasi informasi, ujaran kebencian, penipuan digital dan berbagai bentuk penyalahgunaan teknologi dapat memengaruhi karakter serta masa depan generasi muda.
“Mengisi kemerdekaan hari ini berarti juga memastikan generasi muda memiliki kemampuan untuk menjaga dirinya, menjaga sesama dan menjaga masa depan bangsa. Karena itu, literasi digital, pendidikan karakter dan kesadaran hukum merupakan bagian dari upaya kita mengisi kemerdekaan,” jelas Mercy.
Ia berharap peserta yang mengikuti kegiatan tersebut tidak berhenti pada pemahaman pribadi, tetapi mampu meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada teman sebaya, keluarga dan komunitasnya.
265 Peserta Dibekali Pemahaman tentang Ancaman Ruang Siber
Keterlibatan 265 peserta dalam kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bentuk partisipasi generasi muda, tetapi juga memperluas jangkauan edukasi melalui kehadiran para pengasuh dan pembina SMTPI dari masing-masing sektor pelayanan.
Para pengasuh dan pembina tersebut memiliki peran penting dalam memastikan pesan-pesan mengenai literasi digital, pembentukan karakter dan kesadaran hukum dapat terus disampaikan kepada anak dan remaja dalam proses pembinaan di lingkungan pelayanan masing-masing.
Pola pembinaan tersebut diharapkan mampu menciptakan efek berkelanjutan. Edukasi tidak berhenti ketika kegiatan selesai, tetapi dapat diteruskan melalui keluarga, lingkungan gereja dan komunitas sebaya.
Dengan pendekatan tersebut, gereja tidak hanya membangun kesadaran individual anak dan remaja, tetapi juga membentuk ekosistem perlindungan generasi muda yang melibatkan anak, remaja, pengasuh, pembina, keluarga dan komunitas gereja.
Polwan Polda Maluku: Ruang Digital Bukan Ruang Tanpa Aturan
Dalam sosialisasi tersebut, IPTU Sofia Christina Ester Alfons, S.H., M.H., memberikan pemahaman kepada pemuda dan remaja mengenai berbagai bentuk perilaku yang dapat masuk dalam kategori cyber bullying maupun penyalahgunaan ruang digital.
Dari perspektif kepolisian, edukasi tersebut penting karena masih terdapat anggapan di kalangan pengguna media sosial bahwa ruang digital merupakan ruang bebas yang memungkinkan seseorang melakukan apa saja tanpa konsekuensi.
IPTU Sofia menekankan pentingnya membangun kesadaran hukum sejak usia muda, terutama dalam menggunakan media sosial dan berbagai platform digital.
“Ruang digital bukan ruang tanpa aturan. Apa yang kita lakukan di media sosial, termasuk membuat komentar, mengunggah foto atau video maupun menyebarkan suatu informasi, harus dipertimbangkan dengan baik karena dapat berdampak kepada orang lain dan juga memiliki konsekuensi hukum,” ujar Sofia.
Ia mengingatkan bahwa cyber bullying dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, tidak hanya berupa kata-kata kasar atau penghinaan, tetapi juga penyebaran informasi yang mempermalukan seseorang, ancaman, intimidasi, pengucilan secara digital, hingga penyebaran foto atau video yang digunakan untuk merendahkan korban.
“Cyber bullying sering kali dianggap sebagai candaan. Padahal, bagi korban, tindakan tersebut bisa memberikan tekanan psikologis yang serius. Karena itu, jangan membangun kesenangan di atas penderitaan orang lain. Sebelum mengetik, mengunggah atau membagikan sesuatu, pikirkan dampaknya,” tegasnya.
Bijak Menggunakan Media Sosial
Sofia juga mengajak para peserta untuk tidak mudah menyebarkan konten yang diterima melalui media sosial, terutama konten yang mengandung unsur pornografi, kekerasan, penghinaan atau eksploitasi terhadap seseorang.
Menurutnya, kemampuan memilah informasi dan konten digital merupakan bagian penting dari literasi digital sekaligus bentuk tanggung jawab dalam menggunakan kebebasan di ruang siber.
“Tidak semua konten yang kita terima harus diteruskan atau dibagikan. Kita harus memiliki kemampuan untuk berhenti, berpikir dan memeriksa terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan di ruang digital. Jangan sampai kita menjadi korban, tetapi jangan pula karena ketidaktahuan kita justru menjadi pelaku atau ikut menyebarkan konten yang bermasalah,” jelas Sofia.
Ia mendorong pemuda dan remaja agar berani meminta bantuan kepada orang tua, guru, pendamping gereja maupun pihak kepolisian apabila mengalami atau mengetahui tindakan perundungan maupun persoalan lain di ruang digital.
“Kalau mengalami perundungan atau menemukan persoalan di dunia maya, jangan memilih diam karena takut atau malu. Simpan bukti yang ada, jangan membalas dengan tindakan yang sama, dan sampaikan kepada orang yang dapat dipercaya agar persoalan tersebut dapat ditangani dengan tepat,” tambahnya.
Pengalaman Sofia dalam bidang kepolisian, termasuk tugas yang berkaitan dengan penanganan kejahatan siber, menjadi salah satu modal penting dalam memberikan edukasi kepada generasi muda mengenai ancaman dan risiko penggunaan teknologi digital.
Kabid Humas Polda Maluku: Isi Kemerdekaan dengan Membangun Generasi yang Tangguh
Sementara itu, Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi, S.I.K., menilai edukasi yang dilakukan bersama Jemaat GPM Soya merupakan bagian penting dari pendekatan preventif kepolisian dalam menghadapi perkembangan ancaman di ruang digital.
Menurutnya, momentum HUT Ke-81 Kemerdekaan RI dapat menjadi pengingat bahwa membangun Indonesia yang kuat juga harus dimulai dari membangun generasi muda yang memiliki karakter, kesadaran hukum dan kemampuan menghadapi perubahan zaman.
“Kemerdekaan harus kita isi dengan membangun generasi yang tangguh. Saat ini salah satu tantangannya berada di ruang digital. Karena itu, membekali generasi muda dengan literasi digital, karakter dan kesadaran hukum merupakan bagian dari upaya kita mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu menjaga masa depan bangsa,” ujar Kabid Humas Polda Maluku.
Ia menegaskan, perlindungan generasi muda di ruang digital tidak dapat dilakukan oleh kepolisian sendiri. Dibutuhkan sinergi antara keluarga, gereja, sekolah, pemerintah, komunitas pemuda dan seluruh elemen masyarakat.
“Perlindungan generasi muda di ruang digital merupakan tanggung jawab bersama. Kepolisian tidak dapat bekerja sendiri. Karena itu, kolaborasi dengan gereja, keluarga, sekolah dan berbagai elemen masyarakat sangat penting untuk membangun kesadaran sejak dini mengenai penggunaan teknologi secara sehat, aman dan bertanggung jawab,” katanya.
Menurutnya, pendekatan edukasi dan pencegahan perlu terus diperkuat karena perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat, sementara pola kejahatan di ruang digital juga terus mengalami perubahan.
“Kita tidak boleh menunggu sampai anak-anak kita menjadi korban atau pelaku baru kemudian bertindak. Edukasi dan pencegahan harus dilakukan sejak awal. Generasi muda harus dibekali pengetahuan agar mampu mengenali risiko, menjaga dirinya, menghormati orang lain dan memahami konsekuensi hukum dari setiap aktivitas di ruang digital,” tegasnya.
Kabid Humas Polda Maluku juga mengapresiasi inisiatif Jemaat GPM Soya yang menjadikan literasi digital dan kesadaran hukum sebagai bagian dari pembinaan pemuda dan remaja.
“Apa yang dilakukan Jemaat GPM Soya merupakan bentuk kolaborasi positif. Gereja memiliki posisi yang sangat strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Ketika nilai-nilai keagamaan, pendidikan karakter, literasi digital dan kesadaran hukum berjalan bersama, kita dapat membangun generasi yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dan sosial,” ujarnya.
Gereja dan Polri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pengisi Kemerdekaan
Ketua Seksi Acara Panitia HBGN Jemaat GPM Soya, Dr. Mercy Florence Halamury, menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak sekadar memberikan pengetahuan mengenai bahaya cyber bullying dan cyber pornografi, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan karakter generasi muda gereja.
“Kami ingin pemuda dan remaja tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi generasi yang mampu menggunakan teknologi untuk belajar, berkarya, membangun relasi positif dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Mereka harus memiliki keberanian untuk menolak perundungan, pornografi, kekerasan digital dan berbagai perilaku yang dapat merusak masa depan,” tuturnya.
Sebagai akademisi STAKPN Ambon, Mercy juga melihat bahwa tantangan digital perlu dijawab melalui pendidikan yang menyentuh aspek pengetahuan sekaligus karakter.
“Teknologi adalah bagian dari kehidupan generasi sekarang. Karena itu, yang harus kita bangun bukan ketakutan terhadap teknologi, tetapi kemampuan untuk menggunakannya secara benar. Iman, pendidikan karakter, literasi digital dan kesadaran hukum harus menjadi satu kesatuan dalam pembinaan generasi muda,” katanya.
Ia berharap peserta yang mengikuti kegiatan tersebut tidak berhenti pada pemahaman pribadi, tetapi mampu meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada teman sebaya, keluarga dan komunitasnya.
“Kami berharap pemuda dan remaja Jemaat GPM Soya dapat menjadi agen-agen perubahan. Mereka bukan hanya mampu melindungi dirinya sendiri di ruang digital, tetapi juga mampu mengingatkan dan mengedukasi teman-temannya untuk bersama-sama menciptakan ruang digital yang sehat dan aman,” pungkas Mercy.
Dari Soya untuk Indonesia: Merawat Kemerdekaan di Era Digital
Kegiatan sosialisasi tersebut memperlihatkan bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui langkah-langkah konkret yang menyentuh kehidupan generasi muda.
Di tengah peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI, kolaborasi Jemaat GPM Soya dan Polwan Polda Maluku menunjukkan bahwa merawat kemerdekaan tidak hanya dilakukan dengan mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga dengan mempersiapkan generasi penerus agar mampu menghadapi tantangan masa depan.
Ruang digital kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda. Karena itu, kebebasan di ruang digital harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab, etika, penghormatan terhadap sesama dan kepatuhan terhadap hukum.
Keluarga, gereja, sekolah, pemerintah, kepolisian dan masyarakat memiliki peran strategis dalam menciptakan ekosistem yang mampu melindungi anak dan remaja dari berbagai ancaman di dunia maya.
Melalui program HBGN Tahun 2026, Jemaat GPM Soya menegaskan komitmennya untuk mempersiapkan generasi muda gereja yang modern, berkarakter, taat hukum, memiliki ketahanan digital dan siap menjadi agen perubahan bagi keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara.
Kolaborasi bersama Polwan Polda Maluku diharapkan menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas untuk membangun generasi Indonesia yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki ketahanan moral, sosial dan hukum.
Sebab, mengisi kemerdekaan di era digital berarti memastikan generasi muda memiliki kebebasan untuk tumbuh, belajar, berkarya dan berkreasi—tanpa menjadi korban maupun pelaku kekerasan dan kejahatan di ruang siber.
