SBB,beritasumbernews.com,Domi Neite salah satu aktifis selaku tokoh muda mewakili masyarakat Inamosol, Kabupaten seram bagian barat menyatakan sikapnya keluh kepada kinerja pemerintah daerah.
Kata Neite kemarin kepada awak media ini di Kairatu Seram bagian barat menyampaikan” Ruas jalan Kairatu-Inamosol merupakan salah satu ruas jalan yang berstatus provinsi dengan nomor ruas 045 yang panjangnya 24, 70 kilometer.
Lanjut Neite” Jalan ini ditetapkan bersama 72 ruas jalan lainnya sesuai Keputusan Gubernur Maluku Nomor 273 Tahun 2016 tentang Penetapan Ruas Jalan Menurut Statusnya sebagai Jalan Provinsi, dan Keputusan Gubernur Maluku Nomor 206 Tahun 2018 tetang Penetapan Ruas Jalan dalam Jaringan Jalan Premier menurut Fungsinya sebagai Jalan Jalan Kolektor-2 (JKP-2) jalan Kolektor-3 (JKP-3).
Menurutnya” Pembangunan jalan Kairatu-Honitetu pernah dikerjakan bertahap dalam kurun waktu 10 tahun terakhir yang realisasinya kurang lebih sepanjang 5 kilometer.
Kemudian pada akhir tahun 2020 dan awal 2021, jalan warisan kolonial Belanda ini dikerjakan lagi sepanjang 4 kilometer. Berdasarkan data LPSE Provinsi Maluku, anggaran untuk tender proyek jalan ini telah menghabiskan dana 16 M.
16 M dapat dikalkulasi dari tender tertanggal 5 November 2020 untuk pembangunan ruas jalan Kairatu – Honitetu sebanyak 14 M, dan tender 2021 untuk peningkatan jalan Kairatu-Honitetu sebanyak 2 M. Naasnya, harapan tidak sesuai kenyataan, Hasil dikertas mengkhianati hasil dilapangan. Beber Neite
Pasalnya” warga Inamosol hanya Menelan pil janji pembangunan, yang mana tidak membuat sehat di Negeri yang sakit-sakitan.
Katanya” Wilayah kami bukan tempat proyek fiktif, Sebelumnya kami sudah merasakan menjadi korban proyek siluman tahun 2018 senilai 31 M untuk pembangunan jalan ruas Rambatu-Manusa sepanjang 24 kilometer.
Hingga kini proyek tak kunjung selesai, Proyek tersebut bermasalah dan sekarang telah diproses hukum, Semoga semua yang terlibat akan mendapatkan ganjaran setimpal.
Untuk itu, kata Neite” kami berharap pemerintah daerah lebih bijak menanggapi jeritan hati rakyat, Jangan membangun tembok penderitaan diatas kegelisahan kami lagi, Sudah cukup perlakuan tidak adil selama ini, Kami ingin melihat pembanguan ruas jalan Kairatu-Honitetu sepanjang 24,70 kilometer itu rampung.
Kehilangan anggaran sebanyak 16 M, memang menimbulkan perspektif liar bahwa ada indikasi terjadinya kecurangan pada proyek tersebut. Ungkap Neite
Fakta lapangan menunjukan ketidakseriusan pemerintah membuka keterisolasian diwilayah ini, Apa yang dialami oleh masyarakat Inamosol adalah bentuk pembohongan publik. Tuturnya
Meski mengecewakan, masyarakat masih berniat untuk menantikan kelanjutan pekerjaan pembangunan ruas jalan Kairatu-Honitetu dalam tahun berjalan di 2022 ini.
Sebagai anak kandung Inamosol, saya ingin menuntut kepastian serta ketegasan dari Pemerintah Daerah Provinsi Maluku, Dinas PUPR, dan DPRD untuk tidak tutup mata terhadap kebutuhan rakyat di Inamosol. Pungkasnya
Sebab Inamosol adalah bagian dari Maluku yang menginginkan kemajuan, Tolong jangan pangkas jatah pembangunan diwilayah kami. Pintanya (Rdks)
