Piru,beritasumbernews.com
Beberapa pekan lalu para tokoh Agama, baik Ketua Klasis, Ketua MUI, maupun Pastor Paroki Kab.SBB merasa tersinggung dan seakan – akan tidak di hargai sebagai pendamping Pemerintah daerah selama berdirinya Kabupaten Seram Bagian Barat atau di kenal dengan” Saka Mese Nusa”.

Kurang lebih 20 tahun para tokoh Agama ini sangat di hargai sebagai pemimpin utama Agama yang selalu mendampingi Pemerintah Daerah dalam situasi apapun daerah Kabupaten berjuluk Saka Mese Nusa ini.

Namun sangat di sayangkan selama Bupati berganti Bupati dan saat tiba pada datangnya sosok penjabat Bupati, nasib sial menimpa para tokoh Agama, yang terkesan tidak di hargai.

Hal ini pun terluap dalam sebuah kekesalan, yang mana kesalahan ini di curhatkan ke publik, Ketua MUI Kab.SBB yang di kenal semua masyarakat Kabupaten SBB Hj. Samwul Nutlette S,Pi, kepada awak media ini saat di temua kemarin mengatakan” ia lebih memilih curhat buat Tuhan dan curhat buat publik saja biar Dunia tahu.

Menurutnya” terkait penarikan kendaraan yang di gunakan para tokoh Agama, pihaknya di Surati oleh Sekda terkait penarikan kendaraan para tokoh Agama, dengan isi surat bahwa segera di kembalikan karena mau di tertipkan. Ucap Nurlette

Lanjutnya” menurut isi surat bahwa ada temuan BPK, sehingga mengakibatkan Kabupaten SBB ini Disclaimer. Cetus Nurlette yang juga adalah Ketua FKAUB Kab.SBB Kamis 1/09/2022

Nurlette mengatakan” kekecewaan yang lebih parah lagi saat pihaknya mendatangi Pj. Bupati saat mendapat surat tersebut, namun merasa di perlakukan secara tidak adil oleh Pj.Bupati karena tidak seperti biasanya Bupati siapapun, bayangkan kehadiran kita saya dan beberapa pengurus datangi Kantor Bupati sejak jam 12 hingga jam 17 : 00 Wit atau jam 5 sore tidak diijinkan masuk, ini satu sikap yang sangat tidak sesuai dan mengecewakan. Kesal Nurlette

Nurlette mengungkapkan bahwa” selama Kabupaten SBB ini ada setiap yang namanya tokoh agama apalagi dari MUI, Ketua Klasis, ataupun Pastor Paroki yang ingin ketemu Bupati itu sangat di hargai dan di utamakan, namun kehadiran kami di introgasi oleh ajudan Bupati. Heran Nurlette

Pasalnya” kamu sudah jelaskan ke ajudan keperluan kami yakni terkait kendaraan para tokoh Agama yang hendak akan di tarik, namun sangat tidak di hargai, padahal tujuannya hanya sekedar menanyakan Pj.Bupati bahwa apakah tidak ada kebijakan lain lagi, karena bagaimana para tokoh Agama bisa layani umat dalam berbagai hal jika tidak miliki kendaraan. Ucap Nurlette

Nurlette pun memberikan contoh” jika ada konflik baik itu antar agama, maupun antar kampung, selalu saja para tokoh Agama sangat berperan penting dalam upaya perdamaian, bahkan fungsi tokoh Agama ialah selalu jalan mengunjungi semua umat di semua Kecamatan, Desa dan Dusun guna selain berikan himbauan cinta damai, namun juga mensosialisasikan program Pemerintah.

Bahkan lebih jelas lagi kata Nurlette, Pastor Paroki di Piru mengalami hal yang sama dan mencoba mendatangi Pj.Bzpati di Kantor Bupati sejak pukul 10 : 00 Wit pagi menunggu hingga pukul 19 : 00 Wit atau jam 7 malam itupun tidak diijinkan ketemu, inikan sangat aneh ada apa dengan Pj.Bupati ini. kesal Nurlette

Nurlette berharap secepatnya Kemendagri mengambil langkah jika ada solusi untuk di gantikan lebih bagus di gantikan saja Pj.Bupati yang modelnya seperti ini datang bukan membuat daerah ini bersuka cita karena bisa keluar dari keterpurukan malahan membuat semua orang pada tidak suka dan daerah malah menjadi lebih buruk. Pungkasnya

Kata Nurlette” saat itu menurut ajudannya mobil di kembalikan saja nanti baru akan di buat berita acara dan permohonan kembali.

Yang menjadi heran kami” kami ini bagian dari Forkopimda pimpinan di daerah ini yang setiap saat mendampingi seorang Bupati kenapa tidak kami bertemu saja dengan Bupati seperti biasanya, kenapa kami harus berhadapan saja dengan ajudan yang tugasnya hanya mengawal Bupati, inikan sudah menganggap kami rendah dan remeh, kami ini tokoh Agama pemimpin umat. Tegas Nurlette (Rdks)