Amahusu,beritasumbernews.com,Timbul dugaan bahwa masyarakat Negeri Amahusu telah mengalami sesuatu hang menyebabkan tidak menemukan jati diri, hingga berujung serba membingungkan.
Hal ini terjadi pada masa pergantian kekuasaan dari pemerintahan kolonial ke pemerintahan Nasional.
Informasi ini berhasil di himpun Redaksi media beritasumbernews.com kemarin saat berkunjung ke Negeri Amahusu menjumpai sejumlah tokoh masyarakat termasuk Kepala Soa Wakan Onas Siloy. Kamis 12/10/2023 siang kemarin
Dalam lajur cerita yang di kutip dari hasil pembicaraan kemarin” masyarakat yang seharusnya bisa meningkatkan kesejahteraan malah harus tersendat – sendat akibat persoalan yang tak kunjung usai, lalu kira apa yang menyebabkan permasalahan ini terjadi ? Tanya salah satu tokoh adat dalam cerita bersama itu
Setapak demi setapak, dengan raba – raba perkembangan sejarah Negeri Amahusu beserta masyarakatnya, makin terang lah bagi pihaknya dalam melihat permasalahan tersebut. Tutur Onas Siloy
Di tambahkannya pula” akhirnya nampaklah gambaran yang mengerikan, masyarakat amahusu telah berabad – abad lamanya tercengkeram dalam suatu perjuangan yang hampir tiada taranya. Ungkap Onas
Kata Onas lagi” adanya persoalan sejarah masa lampau sejak adanya kolonialisme hadir di bumi Maluku, harus di pecahkan dengan sebaiknya, dan perlu diadakan pendekatan lebih serius.
Lebih lanjut Onas menyampaikan” pihaknya mata rumah Siloy dari 3 moyang perlu mengusulkan bahwa harus adanya penulisan sejarah secara sistematis yang adalah pembahasan menurut pola” Amahusu – masa lampau – Amahusu, Masa Kini” dan Amahusu masa mendatang.
Di tempat yang sama Frangky Siloy menambahkan” kebanyakan data tentang negeri atau desa di Indonesia di tulis oleh orang – orang asing atau orang yang bukan berasal dari negeri sendiri. Ucap Frangky
Pasalnya” hal itu terjadi karena miskinnya pengetahuan pada anak negeri asli dari negeri kelahiran membuat kesan seperti kacang lupa akan kulitnya.
Hanya sedikit saja Dati antara anak negeri mengerti tentang bukti sejarah asal usul mata rumah parenta yang sebenarnya. Ungkap Frangky
Kata Frangky” disinilah letak sumber kontradiksi dalam pemikiran tentang negeri adat, dan itu tidak berubah bahkan dalam beberapa hal tertentu mengalami kemunduran kearah yang merugikan kehidupan/negeri di masa transisi ini, sehingga banyak menimbulkan pertanyaan Tampa jawaban pasti serta memuaskan, bahkan rasa solidaritas merosot, akibat jumlah penduduk yang bertambah, tanah yang terbatas untuk di garap, pengangguran dan kemiskinan uang kian suram. Jelas Frangky
Bahkan Frangky juga mengatakan” kondisi negeri amahusu saat ini sedang terjadi perobahan pola hidup dan perilaku sosial yang semakin terasa bahkan lebih lagi sedang nampak sebuah indikasi pergeseran nilai adat dan budaya. Sebut Frangky
Ada hal yang lebih menarik yaitu” persoalan lemahnya lembaga adat yakni Saniri yang dinilai tidak sanggup jadi forum komunikasi dalam menyelesaikan sebuah masalah di negeri terkait penetapan mata rumah parenta dan penetapan Raja yang sesuai dengan garis turunan yang asli dan sebenarnya. Beber Frangky
Tidak hanya itu sosok orang tua yang di kenal di negeri amahusu yang juga menjadi korban penganiayaan oleh karena ada dugaan hasutan pihak lain, mengungkapkan juga bahwa” tarik ulur, klaim mengkalim terkait mata rumah parenta yang terlihat dari yang bukan mata rumah parenta yang jelas – jelas asal usulnya dari keturunan adopsi yang memperkeruh suasana batin anak adat asli mata rumah parenta tiga Moyang. Ungkap Ari
Menurutnya” selama kurun waktu 2 tahun dalam kedudukannya sebagai ketua Saniri, dengan kewenangan yang terbatas, terlihat ada penyimpangan jauh tampa memperhatikan batas kewenangan hukum adat dan tidak memperhatikan adat istiadat yang berlaku, akhirnya menciptakan kontraversi antara yang bukan punya hak dengan yang punya hak. Tutur dia
Lebih tegas lagi Ari mengatakan” pihaknya yang punya kepentingan sebagai leader perlu meletakan dasar yang baik dalam struktur pemerintahan adat di negeri amahusu. Tegas Ari
Hitung – hitung ini ada sementara di sediakan ya bom waktu atau kuman kanker yang lambat Laun dapat melumpuhkan seluruh sistim kehidupan masyarakat amahusu. Pungkas Ari (V374)
