Ambon, – beritasumbernews.com – Provinsi Maluku – Insiden hubungan intim yang dilakukan dengan cara memanfaatkan posisi serta kesempatan untuk melakukan perbuatan bejat terhadap perempuan, yang mencakup kelompok usia di bawah umur hingga mahasiswa aktif, kini tidak lagi menjadi rahasia yang tersembunyi di tengah masyarakat,

karena kasus semacam itu secara berturut-turut terungkap ketika korban akhirnya menemukan keberanian untuk membuka suara dan dengan penuh keberanian mengungkapkan pengalaman pahit yang mereka alami dalam kurun waktu yang cukup panjang serta sebelumnya hanya bisa mereka tahan sendiri.

Hironisnya, kasus pencabulan yang telah mengguncang suasana damai masyarakat desa waisamu kabuapaten (sbb) baru-baru ini resmi terungkap ke publik dan telah menimpa dua orang gadis muda yang semula dengan tulus mengharapkan untuk mendapatkan perlindungan moral serta bimbingan spiritual yang positif,

namun justru harus merasakan penderitaan yang luar biasa akibat perbuatan tercela yang dilakukan oleh seorang hamba Tuhan yang memiliki wewenang di lingkungan ibadah, dengan tindakan yang dimulai sejak awal tahun 2022 dan terus berlanjut tanpa terhentikan hingga awal tahun 2026,

sehingga informasi penting seputar kasus ini berhasil kami kumpulkan melalui proses penyelidikan yang cermat dan teliti kemudian diterbitkan secara resmi pada hari Senin, (10 /03/2026).

Menurut sumber berita yang merupakan kerabat dekat salah satu korban, tepatnya sebagai tante dari korban Berinisial F, dan korban yang satu merupakan mahasiswa, korban tersebut secara resmi mulai menjalani kuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Ambon pada tahun 2025 dan baru memberitahukan secara terbuka tentang perlakuan keji yang pernah dia alami pada awal tahun ini,

karena rasa malu yang sangat mendalam telah membuatnya merasa sulit bahkan tak mampu untuk membuka diri kepada siapapun selama ini, dan hingga saat ini korban tersebut masih belum dapat melanjutkan aktivitas perkuliahan yang seharusnya dia jalani karena kondisi psikologisnya masih belum mampu untuk menghadapi situasi yang terjadi serta dampak negatif yang menyertainya secara menyeluruh.

Ketika sumber berita tersebut kemudian secara sengaja berusaha untuk menemui korban secara langsung dan melakukan komunikasi yang mendalam serta penuh empati, baru diketahui secara jelas bahwa korban dari perbuatan pencabulan yang dilakukan oleh pelaku tersebut

bukan hanya satu orang siswa atau mahasiswa semata, melainkan terdapat dua korban yang masing-masing telah merasakan kesedihan yang mendalam dan ketakutan sangat luar biasa akibat tindakan yang dilakukan oleh pelaku, bernama Manakoda

namun hingga saat ini nama lengkap dari sumber berita yang merupakan anggota keluarga korban, beserta identitas lengkap korban dan pelaku sendiri belum dapat kami uraikan secara terperinci mengingat perlunya menjaga privasi serta keamanan fisik dan psikologis bagi semua pihak yang terlibat langsung dalam kasus yang sangat menyakitkan ini.

Selanjutnya, sumber media yang telah melakukan penyelidikan mendalam selama beberapa waktu menyampaikan bahwa pelaku Bernama Manakoda yang bertugas sebagai hamba Tuhan di Gereja Pantekosta waisamu kabuapaten Seram bagian Barat ( SBB) kerap melakukan perbuatan bejat tersebut dengan cara yang sangat keji yaitu mengancam korban tidak di beritahukan

Sumber”  Menjelaskan bahwa kondisi psikologis korban menjadi semakin tertekan dan merasa tidak berdaya sama sekali untuk melawan tindakan pelaku atau mencari bantuan dari pihak lain, dan akibat tekanan mental yang sangat berat yang terus-menerus diberikan oleh pendeta tersebut,

Meminta pihak kepolisian segera untuk segera Mentutaskan permasalahan Bejat yang di lakukan oleh pendeta tersebut dan segera Memproses kasusnya sampai tuntas. Dan pihak pelaku sementara di periksa di Karimun Polda Maluku pelaku juga Menunggu pemeriksaan selanjutnya

( chey)