Ambon – beritasumbernews.com – Pemerintah Kota Ambon melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Perwakilan Kota Ambon serta Tim Tanggap Darurat Bencana (Tagana) menggelar serangkaian kegiatan latihan dan langkah antisipasi bencana. Kegiatan ini dilaksanakan di lingkungan Sekolah Dasar Negeri 2, tepatnya pada tanggal 26 April 2026.

Penyelenggaraan kegiatan ini dilakukan secara khusus dalam rangka memperingati Hari Kesadaran Bencana Masyarakat, yang menjadi agenda penting dan rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai wujud kepedulian terhadap keamanan serta keselamatan seluruh warga kota.

Sebagai kegiatan tahunan yang terus berjalan secara berkelanjutan, peringatan Hari Kesadaran Bencana Masyarakat pada tahun ini memasuki usia penyelenggaraan yang ke-61. Seluruh rangkaian acara disusun dengan perencanaan yang matang dan mengusung subtema “Bersatu dalam Siaga Sepanjang Tahun Menghadapi Bencana” sebagai pedoman utama pelaksanaannya.

Kepala BPBD Kota Ambon, Frits Tatipikalawan, dalam keterangan pers yang disampaikan kepada sejumlah awak media menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang dengan tujuan utama untuk mempersiapkan seluruh lapisan masyarakat menghadapi kemungkinan terjadinya bencana, dengan fokus perhatian yang secara khusus ditujukan kepada anak-anak usia sekolah.

Ia menyampaikan bahwa pemilihan sasaran ini didasarkan pada pemikiran bahwa penanaman pengetahuan dan keterampilan menghadapi situasi darurat sejak usia dini akan memberikan bekal yang kuat bagi generasi mendatang agar mampu bertindak dengan tepat ketika bahaya mengancam.

Lebih lanjut dijelaskannya, melalui kegiatan yang didukung penuh oleh tim dari BNPB dan Tagana ini, diharapkan para siswa dapat memahami dengan baik langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, serta mengetahui cara-cara yang tepat untuk menyelamatkan diri melalui proses evakuasi mandiri yang aman dan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Sebelum rangkaian kegiatan utama dimulai pada hari tersebut, pihak penyelenggara bersama petugas dari BNPB dan Tagana telah melaksanakan simulasi latihan pada pagi harinya. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran langsung yang melibatkan seluruh peserta, baik siswa maupun tenaga pendidik, sehingga mereka dapat merasakan dan memahami gambaran nyata mengenai situasi yang mungkin terjadi saat bencana berlangsung.

Keterlibatan BNPB dan Tagana dalam kegiatan ini memberikan nilai tambah yang sangat berarti, mengingat kedua lembaga tersebut memiliki keahlian dan pengalaman yang luas dalam menangani berbagai situasi darurat, mulai dari pemberian arahan teknis hingga pendampingan dalam pelaksanaan latihan secara langsung.

Manfaat yang diharapkan dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah untuk mempersiapkan dan meningkatkan tingkat kesiapsiagaan seluruh warga masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, baik yang diprediksi maupun yang datang secara tiba-tiba.

Selain itu, tujuan yang tidak kalah pentingnya adalah untuk membangun dan menumbuhkan budaya sadar bencana yang kuat di tengah kehidupan masyarakat sehari-hari. Dengan adanya kesadaran tersebut, diharapkan setiap warga memahami bahwa bencana memiliki dampak yang sangat luas dan serius bagi keselamatan jiwa, harta benda, serta kelangsungan kehidupan sosial dan lingkungan sekitar.

Ia juga menegaskan bahwa meskipun risiko terjadinya bencana tidak dapat dihilangkan sepenuhnya dari kehidupan manusia, dampak buruk yang ditimbulkannya dapat dikurangi atau diminimalisir secara signifikan. Hal ini dapat diwujudkan melalui berbagai upaya peningkatan kapasitas, pengetahuan, dan keterampilan yang dimiliki oleh setiap individu maupun kelompok dalam masyarakat.

Oleh karena itu, penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk memahami bahwa penanggulangan bencana bukanlah tugas dan tanggung jawab yang hanya dibebankan kepada pemerintah semata, melainkan merupakan urusan bersama yang harus diemban oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Hal ini selaras dengan konsep kolaborasi berbagai pihak atau yang dikenal dengan pendekatan panta heliksa, di mana penanganan dan pencegahan bencana melibatkan peran aktif dari berbagai sektor dan unsur, salah satunya adalah sektor pendidikan yang memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kesiapsiagaan sejak usia dini.

Di sisi lain, disampaikan bahwa BPBD Kota Ambon telah memiliki program unggulan berupa pembentukan satuan pendidikan tangguh bencana. Program ini disusun secara khusus untuk membekali para siswa dan tenaga pendidik dengan berbagai pengetahuan serta keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi situasi darurat, dengan dukungan sumber daya dan tenaga ahli dari BNPB serta Tagana.

Melalui pelaksanaan program tersebut, diharapkan ketika suatu saat terjadi bencana, warga sekolah sudah memiliki bekal pengetahuan yang cukup sehingga tidak lagi merasa bingung, panik, atau bertindak secara sembarangan dalam menghadapi situasi yang tidak diinginkan tersebut. Sebaliknya, mereka sudah mampu melakukan tindakan penyelamatan diri secara mandiri dengan cara yang benar dan aman.

“Melalui pelaksanaan simulasi dan latihan yang kami lakukan hari ini bersama BNPB dan Tagana, kami sangat berharap agar sekolah-sekolah lain di seluruh wilayah Kota Ambon dapat meniru serta melaksanakan kegiatan serupa di lingkungan pendidikan masing-masing sebagai wujud tanggung jawab bersama,” harapnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan semacam ini sebaiknya tidak hanya dilaksanakan pada momen peringatan Hari Kesadaran Bencana Masyarakat yang jatuh setiap tanggal 26 April saja. Sebaliknya, kegiatan tersebut dapat dijadikan sebagai rutinitas yang dilaksanakan secara berkesinambungan sepanjang waktu agar kemampuan yang dimiliki senantiasa terasah dan terbarukan.

Bahkan, pihaknya mengusulkan agar materi-materi yang berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam menghadapi bencana dapat dimasukkan ke dalam struktur kurikulum pendidikan atau dijadikan sebagai bagian dari mata pelajaran yang diajarkan secara rutin di setiap jenjang pendidikan.

Apabila usulan tersebut dapat diwujudkan, maka proses pembekalan pengetahuan kepada generasi muda akan berjalan secara terstruktur, teratur, dan berkelanjutan tanpa harus menunggu momen peringatan hari besar tertentu saja.

Dengan demikian, persiapan menghadapi berbagai kemungkinan terjadinya bencana akan semakin kuat dan matang, sehingga masyarakat secara keseluruhan memiliki kemampuan yang baik untuk menghadapi segala tantangan yang muncul akibat bencana yang terjadi di masa mendatang. (Chey)