Ambon,- beritasumbernews.com – Perekonomian Maluku terus menunjukkan kinerja positif. Pada Triwulan II 2026, ekonomi Maluku tumbuh 5,31 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Pertumbuhan tersebut menjadi momentum positif bagi Maluku sekaligus menunjukkan semakin pentingnya peran sektor jasa keuangan dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Pertumbuhan tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian Maluku di tengah berbagai tantangan.
Perekonomian daerah masih ditopang terutama oleh sektor Pertanian, Kehutanan & Perikanan (23,64%), Administrasi Pemerintahan (20,77%), serta Perdagangan (14,55%) terhadap struktur PDRB Maluku. Kredit Perbankan Tumbuh, Pembiayaan UMKM Terus Didorong Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi provinsi di Maluku, intermediasi perbankan di Maluku tetap menunjukkan perkembangan positif.
Hingga Juni 2026, penyaluran kredit perbankan mencapai Rp20,79 triliun, tumbuh 5,84 persen yoy. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tercatat sebesar Rp17,29 triliun, tumbuh 1,51 persen yoy, dengan total aset perbankan mencapai Rp35,16 triliun, tumbuh 7,32 persen yoy. Pembiayaan kepada sektor usaha juga terus menjadi perhatian. Kredit UMKM tercatat sebesar Rp6,31 triliun, tumbuh 0,78 persen yoy.
Berdasarkan penggunaannya, kredit konsumtif menjadi salah satu pendorong pertumbuhan dengan peningkatan 8,57 persen yoy. Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga terus menjadi salah satu instrumen penting dalam memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat dan pelaku UMKM khususnya di provinsi Maluku. Pada periode Januari hingga Juni 2026, penyaluran KUR di Maluku mencapai Rp649,58 miliar kepada 12.148 debitur.
Namun demikian, kualitas kredit ke depan tetap perlu menjadi perhatian. Rasio Non-Performing Loan (NPL) perbankan berada pada level 4,28 persen. Sementara itu, Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 120,25 persen. Perbankan Syariah Tumbuh Lebih Cepat Pertumbuhan positif juga terlihat pada perbankan syariah. Hingga Juni 2026, total aset perbankan syariah di Maluku mencapai Rp1,10 triliun, tumbuh 17,12 persen yoy.
Penyaluran pembiayaan bahkan tumbuh 24,26 persen yoy menjadi Rp791,72 miliar, sementara Dana Pihak Ketiga mencapai Rp725,41 miliar, tumbuh 13,98 persen yoy. Kualitas pembiayaan syariah tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) sebesar 1,18 persen, dengan Financing to Deposit Ratio (FDR) sebesar 109,14 persen.
Pasar Modal Makin Diminati Masyarakat Maluku Minat masyarakat Maluku untuk berinvestasi di pasar modal juga terus meningkat.
Hingga Juni 2026, jumlah investor tercatat mencapai 22.676 Single Investor Identification (SID) atau tumbuh 43,99 persen yoy. Pertumbuhan jumlah investor tersebut menunjukkan semakin terbukanya akses masyarakat terhadap instrumen investasi pasar modal. Sementara itu, nilai transaksi saham tercatat sebesar Rp363,11 miliar. Perkembangan ini menjadi bagian penting dalam mendorong masyarakat tidak hanya mengenal produk keuangan, tetapi juga mulai membangun kebiasaan pengelolaan keuangan dan investasi yang sesuai dengan profil serta kebutuhan masing-masing.
Industri pembiayaan dan Asuransi Ikut Menopang Aktivitas Ekonomi Masyarakat Pada industri pembiayaan, piutang perusahaan pembiayaan di Maluku tercatat sebesar Rp1,33 triliun pada Juni 2026, dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) sebesar 2,50 persen. Sementara itu, industri asuransi juga menunjukkan perkembangan positif. Premi asuransi jiwa mencapai Rp175,67 miliar, tumbuh 42,94 persen yoy, sedangkan premi asuransi umum mencapai Rp37,31 miliar, tumbuh 4,44 persen yoy.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan peran industri pembiayaan dan asuransi yang semakin penting dalam menyediakan pembiayaan, perlindungan risiko, dan layanan keuangan bagi masyarakat Maluku. SNLIK 2026, Sebagai Potret Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat Maluku Untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi literasi dan inklusi keuangan masyarakat, OJK bersama Badan Pusat Statistik (BPS) melaksanakan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026. SNLIK 2026 dilaksanakan pada 26 Januari hingga 18 Februari 2026 melalui wawancara tatap muka dengan metode Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI). Survei mencakup 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, dan 7.500 Satuan Wilayah Setempat (SLS), dengan responden anggota rumah tangga berusia 15–79 tahun yang terpilih.
Secara nasional, Indeks Literasi Keuangan 2026 mencapai 69,57 persen (tumbuh dari tahun 2025 sebesar 66,64%) dan Indeks Inklusi Keuangan sebesar 93,61 persen (Tumbuh dari tahun 2025 sebesar 92,74%). Pada survei tahun ini juga dikeluarkan indeks literasi dan inklusi keuangan tingkat provinsi.
Pada provinsi Maluku mencatat Indeks Literasi Keuangan sebesar 63,87 persen dan Indeks Inklusi Keuangan sebesar 87,59 persen. Capaian tersebut menunjukkan bahwa perluasan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan perlu terus berjalan beriringan dengan penguatan literasi.
Masyarakat diharapkan tidak hanya semakin mudah mengakses layanan keuangan, tetapi juga semakin cakap dalam memilih, menggunakan, dan memahami risikonya. OJK Perkuat Literasi, 8.500 Masyarakat Telah Mengikuti Edukasi Keuangan. Selain memperluas akses, OJK Provinsi Maluku terus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memahami dan menggunakan produk serta layanan jasa keuangan.

