
Ambon – beritasumbernews.com- Para pengelola pendidikan Katolik dari Regio Makassar, Ambon, dan Manado (MAM) menggelar lokakarya pendidikan di Kota Ambon, Rabu (27/8/2025). Pertemuan ini menjadi forum strategis untuk menyiapkan guru-guru Katolik dalam mengimplementasikan kurikulum dengan pendekatan Deep Learning (pembelajaran mendalam), sebagaimana ditetapkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk tahun ajaran 2025/2026.
Lokakarya yang melibatkan sembilan kabupaten dan dua kota di Provinsi Maluku ini dihadiri oleh ratusan peserta, mulai dari kepala sekolah, guru, hingga pengurus yayasan dari Keuskupan Agung Makassar, Keuskupan Manado, dan Keuskupan Amboina. Selain sebagai ajang konsolidasi, kegiatan ini juga menyoroti isu redistribusi guru Aparatur Sipil Negara (ASN) ke sekolah swasta, yang menjadi tantangan serius bagi lembaga pendidikan Katolik.
“Guru-guru kita kalau hanya diberikan pelatihan sekali tidak akan cukup. Karena itu, pelatihan harus dilakukan berulang-ulang agar mereka semakin siap, semakin senang, dan pembelajaran Deep Learning bisa diterapkan secara baik,” kata Sekretaris Nasional Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK), Romo Yohanes Arieyana.
Lokakarya Regio MAM merupakan agenda rutin yang digelar bergilir di tiga wilayah. Setelah terhenti akibat pandemi Covid-19 sejak 2019, pertemuan ini kembali dihidupkan pada 2022 di Makassar, berlanjut di Manado tahun 2024, dan kini Ambon menjadi tuan rumah 2025. Tahun depan, agenda serupa dijadwalkan berlangsung di Makassar.
Ketua Panitia Pelaksana, RP Karol Yamrevav MSC, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi forum kebersamaan para penyelenggara pendidikan Katolik dalam menghadapi isu-isu aktual pendidikan nasional.
“Dari isu pembelajaran mendalam ini, kita berkumpul berdiskusi dan berlokakarya bersama selama tiga hari. Hasilnya akan diteruskan ke Majelis Nasional Pendidikan Katolik untuk kemudian dirumuskan dalam rekomendasi yang disampaikan kepada pemerintah,” kata RP Karol Yamrevav MSC.
Selain pembahasan kurikulum baru, forum ini juga menyinggung kebijakan pemerintah melalui Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2025 yang memperbolehkan Guru ASN ditempatkan di sekolah swasta. Meski dianggap langkah strategis, implementasi aturan ini masih menghadapi hambatan di lapangan karena distribusi guru negeri sendiri belum merata.
“Kami berharap guru-guru negeri tidak hanya ditempatkan di sekolah negeri, tetapi juga di sekolah swasta Katolik. Banyak guru swasta Katolik yang berkualitas justru terserap ke sekolah negeri setelah lulus PPPK, sehingga sekolah swasta kekurangan tenaga pengajar yang mumpuni,” ujar Romo Yohanes Arieyana.
Peserta lokakarya mencapai jumlah terbesar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan 137 peserta dari Ambon, 69 dari Manado, dan 29 dari Makassar. Materi yang diberikan oleh narasumber mencakup Deep Learning, growth mindset, serta strategi adaptasi pendidikan Katolik dalam menghadapi dinamika kurikulum nasional.
Sekretaris Keuskupan Amboina sekaligus Ketua Yayasan Pendidikan Katolik Keuskupan Amboina, RD Agus Arbol, menegaskan bahwa kegiatan ini sangat penting karena masih banyak sekolah yang belum mendapatkan pelatihan menyeluruh mengenai kurikulum baru.
“Banyak sekolah belum melaksanakan pelatihan Deep Learning. Karena itu, regio kita mengambil inisiatif ini, dan beruntung Kementerian melalui Balai Diklat Guru provinsi memberikan dukungan pelatihan secara gratis,” ungkap RD Agus Arbol.
Selain berfungsi sebagai ajang konsolidasi, lokakarya Regio MAM juga diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi strategis bagi pemerintah dalam mendukung peran sekolah swasta Katolik. MNPK berencana merumuskan usulan kebijakan terkait distribusi guru, keberlanjutan pelatihan Deep Learning, serta penguatan peran yayasan dalam menopang pendidikan nasional.
Rangkaian kegiatan ini juga dipandang sebagai persiapan menuju Kongres Pendidikan Katolik Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada Desember 2025 di Kupang, bertepatan dengan peringatan 51 tahun MNPK. (*)
