
Ambon – beritasumbernews.com Wali kelas 11.9 Desy Rupilu Memberikan Tugas Bahasa Jerman Bagi siswa kelas 11.9 dari tiga Minggu lalu , dan materi tugas itu tentang famili ,
Siswa akan menjelaskan tentang silsilah keluarga dengan berbentuk foto, jadi mulai dari Oma, Opa, dari Mama/Papa dan harus di buat dengan berbentuk foto, dan semua famili ini harus ada, dan disitu akan menjadi silsilah keluarga atau famili.
(Ambon 4/03/2026)
Tugas bahasa Jerman ini sudah di kasih Desi Rupilu sudah tiga Minggu lalu dan Desy meminta kepada siswa harus membuat tugas itu cicil , Desy juga sudah mengingatkan siswa bahwa tugas itu harus di cicil sebelum libur kepala puasa Desy berpikir bahwa waktu yang ia berikan bagi siswa itu cukup panjang, dan ia berharap agar siswa bisa membuat tugas tersebut.
Jadi pada Minggu pertama masuk sekolah ada beberapa siswa yg belum melengkapi Tugas tersebut termasuk siswa LPS, karena sudah tiga Minggu tugas tersebut tidak tuntas maka saya memukul beberapa siswa dari telapak tangan mereka termasuk siswa LPS yang sekarang ini orang tuanya melapor saya di kepolisian,ujar Desy.
Siswa LPS ini Memeng tingkahnya dari Kelas 10 itu sudah malas, karena kalau mata pelajaran yang mungkin bagi LPS ini sulit dan tidak bisa maka LPS beralasan sakit, jadi siswa LPS ini jarang sekali mengikuti mata pelajaran bahasa Jerman,
Pada Minggu lalu Desy sempat Memukul LPS dan Teman-Temannya di kedua telapak tangan mereka, dan Desy juga mengatakan bahwa tugas itu harus di buat dan di lengkap, tetapi Desy juga mengingatkan bahwa lengkap itu berarti bukan harus sempurna,
Dan tugas itu harus di kumpul sekalipun kurang itu tidak apa apa.
Setelah itu Desy juga memberi pembinaan bagi siswa, dan mereka mengiyakannya, Desy langsung memberitakan info ke grup anak-anak harus buat tugas dan tidak boleh ada siswa yang tidak masuk, atau ijin, sakit dan tugas itu harus di kumpul dan ternyata siswa LPS ini tidak masuk sekolah , LPS juga sempat bangun komunikasi dengan teman -:teman dan bertanya (BAGIMANA KEMARIN DONG PERSENTASI KA) dan teman-temannya mengatakan iya lalu LPS balik bertanya lagi (LALU SIAPA -SIAPA YANG SUDAH DAN SIAPA- SIAPA YANG BELUM, LALU BAGIMANA DENGAN YANG SENG BIKING) disitu teman temannya menakut-nakuti LPS
yang seng biking dapat pukul lah su tau to Fraw tetap dapat pukul.
Jadi LPS ini bukan takut dengan Minggu kemarin yang saya pukul tapi LPS ini takut dengan apa kata teman teman padanya, jadi ketakutan dan intimidasi tersebut bukan berasal dari Desy Rupilu, Wali kelas, tetapi rasa takut yang di alami LPS itu karena di takut takuti oleh teman temannya sendiri lalu perasaan takutnya itu memang sudah muncul dari awal .
Jadi alasan LPS ini tidak masuk sekolah, karena tidak buat tugas dan dia juga merasa takut kalau seng biking tugas pasti dapat pukul dari ibu guru,dan itu juga teman teman LPS yang mengatakan kalau tidak buat tugas pasti dapat pukul to, disitu LPS tidak mau kesekolah dan ahirnya LPS melaporkan kepada Orang tua,di situ orang tua LPS menelepon Desi Walikelas LPS dan pada hari itu juga Desy tidak menyimpan Nomor kontak dari mamanya LPS .
Pada saat mamanya LPS menelepon saya dan saat itu saya sedang bersama sama keluarga besar di galala dan itu rutin setiap jam 9.00 Wit kita biasa Doa bersama,saat itu saya sedang berbicara dengan keluarga OMA dan mama mantu ,dan saat itu ada panggilan telpon yang masuk di HP saya dan saya mengangkat panggilan itu dengan mengatakan HALO HALO sapa ni eee,karena panggilan itu tidak ada nama cuma kelihatan nomor saja dan saya juga tidak tau ini nomornya siapa makanya saya lagi mengatakan Halo halo siapa nie, di situ orang tua LPS mengatakan halo ini benar ibu Desy ka , disitu saya mengatakan iya, dan ortu dari LPS mengatakan ibu kelihatanya ibu ini sibuk ya,Desy langsung mengatakan iya ibu soalnya ibu menelepon di waktu jam 10 malam ni dan ini bukan jam sekolah, ortu LPS langsung mengucapkan terima kasih kalau gitu nanti besok saya kesekolah kata ortu LPS.
Besok Ortu LPS datang kesekolah lalu bertemu dengan Desy dan guru kesiswaan, dan ortu LPS langsung mengatakan bahwa oh ini ibu Desy ya, ibu Desy pun mengatakan iya. Disitu ortu LPS mulai mengatakan ibu pukul saya punya anak, ibu ancam saya punya anak dan ibu intimidasi saya punya anak,bagimana anak kami mau rasa nyaman, ibu bilang kalau saya pukul jangan coba coba pulang kasih tau buat orang tua,dan Desy Walikelas juga mengiyakan itu .
Dan pada waktu saya menjadi wali kelas anak anak ini saya perna mengatakan kepada mereka kalau saya pukul jangan pulang kasih tau buat ortu itu karena kalian punya kesalahan mengapa saya mengatakan begitu, biasanya orang tua kalau anak lapor juga kadang anak di pukul dari ortu,jadi saya menegur anak anak kalau dapat pukul di sekolah jangan pulang lapor buat ortu itu maksud Desy .
Desy juga selalu mengontrol anak didiknya jika tidak hadir di kelas disitu saya langsung Foto siswa lalu kirim di grup ortu kadang ortu mengatakan ibu tadi saya punya anak sudah kesekolah, dan saya mengatakan ibu ini siswa yang hadir jadi ini tanggung jawab saya foto dan kirim ke grup supaya ortu tau yang anaknya pergi ke sekolah tapi tidak sampai di kelas dan itu wajib Walikelas rutin ambil gambar siswa dan buang ke grup ortu, termasuk LPS ini juga tidak biking tugas dan saya foto kirim di grup karena siswa yang hadir di kelas cuma 15 atau 18 orang siswa jadi saya harus foto dan kirim buat ortu.
Orang tua LPS datang dan mengatakan ibu kenapa ibu maki maki anak saya dan saya mengatakan oh bapak mohon maaf saya tidak perna maki anak bapak, dan bapak bisa konfirmasi anak-anak SMAN 5 Ambon,
Setelah itu bapak dari LPS mengatakan kepada saya, (IBU SEHARUSNYA HARI INI SAYA DATANG DISEKOLAH BAWAH PARANG POTONG IBU PUNYA KEDUA TANGAN SAYA BAWAH KE POLISI, IBU SAYA INI ORANG ABORU SAYA BILANG SAYA BUNUH SAYA BUNUH NANTI SAYA MASUK PENJARA DARI BELAKANG ) itu kalimat dari ortu LPS bapak Agus Saiya , tetapi Desy tidak merespon ,hanya dengan kata iya terimakasih pak
Ortu LPS juga mengatakan kepada saya dengan bahas Belanda Ondestofen Ye dengan artinya kurang ajar itu ucapan dari ortu LPS. Tutup Desy
(**)
