
Ambon –beritasumbernews.com -“Pulang langsung nangis-nangis ke Papa. 3 juta menurut saya terlalu mahal. Tapi Papa bilang, lanjut saja. Kalau beasiswanya tidak dapat bagaimana? Lanjut saja,” kenang Claris.
Mahasiswa berprestasi ini awalnya hampir mundur kuliah karena terkendala biaya. Namun tekad, doa, dan dukungan orang tua mengantarnya lulus 3,5 tahun dengan IPK tinggi, meraih Beasiswa KIP Kuliah, hingga kini dapat tawaran beasiswa S2 dari Wakil Ketua MPR RI.
*Awalnya Mau Mundur karena UKT Rp3 Juta*
Larissa bercerita, saat dibicarakan dengan orang tua, sang Papa menyatakan sanggup membiayai kuliah. Namun ia tetap mencari info beasiswa.
“Saya dapat info beasiswa KIP Kuliah lewat Instagram. Saya coba daftar, lengkapi persyaratan, lalu bawa berkas ke fakultas,” ujarnya.
Masalah muncul saat belum ada pengumuman beasiswa, tapi harus bayar UKT dulu pakai uang pribadi.
“Saya dengar UKT-nya total 3 juta. Pulang langsung nangis ke Papa. Menurut saya kemahalan. Saya tanya, ‘Bagaimana kalau kita lanjut, tapi nanti beasiswanya tidak dapat?’ Papa bilang, ‘Lanjut saja’,” kenangnya.
Dengan keyakinan itu ia tetap lanjut. “Puji Tuhan, setelah bayar UKT pertama, pengumuman beasiswa keluar dan nama saya lulus.”
*Kuliah Dibiayai KIP: UKT Gratis, Dapat Biaya Hidup Rp5,7 Juta/Semester*
Beasiswa KIP Kuliah menanggung UKT dan biaya hidup. “Saya terima bersih Rp5.700.000 setiap semester, di luar UKT yang langsung dibayarkan ke kampus,” jelas Claris.
Sejak semester 1 sampai 7, semua biaya kuliah ia cover dari beasiswa. Orang tua tidak lagi menanggung biaya kuliah. “Semester 8 beasiswa sudah tidak dapat karena saya lulus di semester 7. Untuk biaya wisuda, orang tua yang biayai.”
Selama 3,3 tahun kuliah, Claris aktif ikut penelitian bersama dosen. Ia pernah ikut riset ke Saparua dan berhasil lolos proposal bisnis senilai Rp50 juta dari Dispora.
“KIP Kuliah juga banyak mengadakan kegiatan. Itu memberi wawasan dan mengajarkan bahwa untuk kami yang kurang mampu, tidak ada halangan lanjut pendidikan. Beasiswa dari pemerintah banyak, tinggal bagaimana kita mau mencari dan mengupayakannya,” katanya.
Momen tak terlupakan terjadi saat wisuda periode 2026. Claris yang mewakili wisudawan menyampaikan kesan dan pesan. Saat namanya dipanggil ke atas panggung, ia kaget.
“Beasiswa dari Wakil Ketua MPR itu tidak pernah terbayangkan. Saya hanya mau menyampaikan kesan-pesan mewakili wisudawan. Tiba-tiba nama saya dipanggil. Saya bahagia sekali karena saya memang ingin lanjut S2. Cita-cita saya jadi dosen,” ujarnya.
Ia sempat ragu lanjut S2 karena biaya. “Untuk S1 saja saya butuh beasiswa, apalagi S2. Ini anugerah dari Tuhan.”
Claris berpesan ke teman-teman dari keluarga kurang mampu agar tidak patah semangat.
“Yakinkan diri dulu bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Yang penting mau berusaha dan tidak pantang menyerah. Semangat dan dukungan orang tua itu sangat penting. Kalau kita sudah berusaha, tapi orang tua tidak mendukung, kita bisa hilang semangat.”
“Tapi yang paling utama berdoa. Semua yang kita perjuangkan, kalau tidak disertai penyertaan Tuhan, pasti sia-sia,” tutup Claris,Fransiska
(Chey)
