AMBON – beritasumbernews.com – Rektor Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), Dr. Steve G. C. Gaspersz, M.Si., MA, menegaskan kolaborasi lintas iman antara UKIM dan Universitas Muhammadiyah Maluku (UM) harus bergerak dari sekadar hidup berdampingan menuju membangun bersama.

Hal itu disampaikan Steve dalam sambutannya pada kegiatan kolaborasi dua kampus yang dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Wakil Gubernur Maluku, Walikota Ambon, Kepala LLDIKTI Wilayah XII, tokoh agama, mahasiswa dan siswa-siswi SMA di Ambon, Rabu (5/11/2026).

Mengawali sambutan dengan pantun khas Maluku, Steve menyambut hangat kedatangan Wakil Menteri.

_”Ikan kuah kuning, ikan cakalang, dimakan hangat bersama papeda. Begitu Pak Wamen sudah datang, mahasiswa semangat, dosen pun merasa muda,”_ ucapnya disambut tepuk tangan hadirin.

“Bapak Wakil Menteri, selamat datang di Kota Ambon, kota yang oleh dunia dikenal sebagai kota musik,” ujarnya.

Steve mengungkapkan, gagasan kolaborasi ini lahir dari perbincangannya bersama Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku, Prof. Faris Al Fadhat.

“Ketika saya dan Profesor Faris pertama kali membicarakan gagasan ini, kami segera menemukan titik temu. Sudah waktunya kerjasama lintas iman tidak berhenti pada pertemuan deklarasi dan foto bersama. Kolaborasi itu harus diterjemahkan menjadi kerja nyata yang dapat dirasakan oleh anak muda, di ruang kelas, di laboratorium, di layar gawai, di perahu nelayan, dan di usaha-usaha kecil yang mereka rintis dengan penuh keberanian,” katanya.

“Kami ingin bergerak dari _living together menuju building together dari hidup berdampingan menuju membangun bersama,” tegasnya.

Dalam tradisi iman yang dihidupinya, Steve menyebut iman tanpa perbuatan adalah mati. Hal yang sama berlaku bagi perdamaian.

“Damai yang tidak diisi dengan karya, lambat laun akan layu. Damai yang dikerjakan bersama justru akan bertumbuh dan berbuah,” ujarnya.

Menurutnya, tidak ada tempat yang lebih tepat untuk mengerjakan damai itu selain di perguruan tinggi.

“Di kampuslah anak-anak muda dari latar yang berbeda belajar duduk di bangku yang sama, berdebat dengan argumen dan bukan dengan prasangka, serta meneliti persoalan bersama untuk menemukan jawaban bersama,” katanya.

Ia menambahkan, pendidikan tinggi, sains dan teknologi yang menjadi amanah Kementerian bukan sekadar urusan ijazah dan akreditasi. Bagi Maluku, ketiganya adalah jalan untuk merawat perdamaian sekaligus membuka masa depan.

Kepada generasi muda Maluku, Steve berpesan agar mereka tidak hanya menjadi pewaris perdamaian, tetapi pembangun perdamaian.

“Kalian sering disebut sebagai pewaris perdamaian, itu benar. Tetapi pagi ini saya ingin mengatakan sesuatu yang lebih dari itu, kalian bukan sekadar pewaris, kalian adalah pembangun. Warisan yang hanya dijaga akan diam di tempat, tetapi warisan yang dikerjakan akan terus bertumbuh,” katanya.

“Hari ini kalian tidak datang sebagai penonton, kalian akan berdialog langsung dengan Bapak Wakil Menteri. Manfaatkanlah kesempatan itu dengan baik, bertanyalah dengan cerdas, sampaikan gagasan dengan berani,” ujarnya.

Steve juga meminta para mahasiswa tidak hanya bertanya soal beasiswa, tetapi juga menampilkan karya di ruang pameran, mulai dari teknologi, ekonomi biru, industri kreatif hingga usaha rintisan.

Ia juga mengingatkan falsafah orang tua Maluku, _ale rasa beta rasa_ – apa yang kau rasakan, aku pun turut merasakannya.

“Bawalah rasa itu kemanapun kalian melangkah, ke ruang kuliah, ke laboratorium, ke dunia kerja, juga ke dunia digital. Di tengah zaman yang mudah terbelah oleh perbedaan pendapat, kabar bohong dan ujaran kebencian, _ale rasa beta rasa_ adalah kearifan tertua dan terbaik yang dimiliki Maluku,” katanya.

Sebagai bentuk kerja nyata, Steve mengumumkan peluncuran _Maluku Youth Initiative_, sebuah platform kerja bersama kedua universitas.

“UKIM bersama Universitas Muhammadiyah Maluku tidak ingin kegiatan ini menjadi peristiwa satu hari yang selesai bersama tepuk tangan. Karena itu hari ini kita akan meluncurkan Maluku Youth Initiative. Dalam 12 bulan pertama, kami bertekad menyiapkan sedikitnya 1.000 anak muda Maluku yang cakap digital dan siap menghadapi era kecerdasan artifisial, mendampingi 100 wirausaha muda dalam jaringan lintas kampus, pulau dan komunitas,” tutupnya.

(bsn01)

By admin