AMBON -beritasumbernews.com -Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd, menegaskan perguruan tinggi tidak boleh hanya berdialog dengan dirinya sendiri dan terjebak pada urusan administratif. Kampus harus keluar dari menara gading dan menjadi bagian dari arsitektur pembangunan nasional.

Hal itu disampaikan Fauzan dalam kegiatan kolaborasi Universitas Muhammadiyah Maluku (UM) dan Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) di Ambon, Rabu (5/11/2026).

Mengawali sambutan, Fauzan mengapresiasi keberanian dua rektor yang mengirim surat undangan hingga ke Wakil Presiden RI.

“Permohonan maaf, surat itu ditujukan kepada Pak Wakil Presiden. Ini luar biasa, betul kata Pak Wakil Gubernur, kalau tidak memiliki nyali yang kuat mungkin tidak akan kirim surat kepada Wakil Presiden. Karena tema sentralnya berbasis perguruan tinggi, maka disposisi dari Pak Wapres turun ke Pak Menteri, dan akhirnya sayalah yang diminta untuk hadir,” ujar Fauzan.

“Saya menghitung sudah lebih dari tiga kali hadir ke kampus di Ambon. Artinya saya sudah bukan orang lain bagi kawan-kawan di Ambon ini,” katanya disambut tepuk tangan.

Fauzan menyebut kolaborasi Universitas Muhammadiyah Maluku (UM) dan UKIM sebagai modal sosial yang harus dipegang. Dua entitas yang berbeda, namun tidak perlu membicarakan perbedaan, yang harus dibicarakan selamanya adalah persamaan.

“Hanya dengan cara itu kita akan bisa bersama, kita akan bisa bersatu,” tegasnya.

Menyambung apa yang disampaikan Wakil Gubernur, Fauzan mengatakan kegiatan hari ini tidak boleh berhenti di ruangan ini. Semangat Kampus Berdampak adalah menggeser paradigma lama perguruan tinggi.

“Selama ini perguruan tinggi cukup berdialog dengan dirinya sendiri, sehingga yang dihitung adalah hal-hal yang bersifat administratif dan formalistik. Akreditasi itu penting, jurnal itu penting, kualifikasi dosen itu penting, tetapi jangan hanya menempatkan kampus pada wilayah itu. Ada wilayah yang lebih luas yang hingga saat ini belum banyak dijamah oleh kampus, yaitu peran kampus di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia menyoroti fenomena paradoks yang masih terjadi di banyak daerah.

“Ke mana-mana saya selalu mengatakan, kampus banyak yang megah tetapi masyarakat di sekitarnya banyak yang miskin. Di situ ada fakultas kedokteran, tetapi di lingkungannya banyak orang sakit. Di mana tanggung jawab sosial perguruan tinggi? Ini tidak boleh terjadi, khususnya di Kota Ambon ini,” katanya.

Karena itu, Fauzan menyambut gembira kolaborasi dua entitas berbeda dalam membangun keharmonisan bangsa, khususnya di Kota Ambon.

“Ini PR besar, khususnya Pak Kepala LLDIKTI, Pak Rektor, jangan sampai kampus berjalan sendiri-sendiri, masyarakat berjalan sendiri. Kampus harus peka melihat fenomena itu. Masih banyak masyarakat yang mengatakan besok makan apa, sementara yang lain sudah mengatakan besok makan siapa,” ujarnya.

Ia berharap kolaborasi ini bisa mengungkit putaran ekonomi desa. Wisuda, pengukuhan guru besar, hingga event kampus harus dilakukan di tengah masyarakat, bukan hanya di gedung.

“Pengukuhan guru besar di bidang peternakan, jangan di gedung, cari daerah peternakan. Pengukuhan guru besar di bidang pertanian, di tengah-tengah sawah. Ini penting supaya kampus tidak ada di menara gading, kampus harus menjadi entitas sosial,” katanya.

Fauzan juga berpesan kepada mahasiswa dan siswa-siswi yang hadir tentang hakikat perubahan. Ia menganalogikan perubahan dengan dua binatang, ular dan ulat.

“Ular ketika badannya semakin besar, dia berganti kulit yang tua menjadi yang muda. Itu hakikat perubahan ala ular. Hanya berubah kulitnya, tidak berubah apa yang dilakukan. Jangan sampai kita kelihatannya seperti mahasiswa, tetapi cara berpikirnya masih anak SMP. Hanya berubah tingkat studi, tetapi substansinya tidak berubah,” ujarnya.

“Berbeda dengan ulat. Ketika menjadi ulat, tidak satupun orang menyukainya. Tetapi dia ingin menjadikan dirinya memberikan value positif kepada masyarakat, melalui proses menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu. Perubahan yang terjadi pada ulat tidak saja perubahan bentuk, tetapi juga perubahan karakter dan nilai,” katanya.

“Peliharalah diri saudara, jangan memelihara mental victim mentality, mental menyalahkan orang, berdalih. Itu adalah penyakit yang harus dihindari ketika kita ingin menjadi orang hebat,” tegasnya.

Ia mengingatkan, proses menjadi hebat tidak ada yang enak. Para pemimpin yang hadir hari ini, termasuk Wakil Gubernur dan Walikota, juga berangkat dari proses yang tidak mudah.

“Kalau masih proses menjadi mahasiswa tapi tuntutannya sudah enak, itu perlu dipertanyakan. Karena saudara masih proses,” tutupnya.

Di akhir sambutan, Fauzan berharap kolaborasi Universitas Muhammadiyah Maluku (UM) dan UKIM tidak berhenti di gedung ini, tetapi mengalir ke masyarakat dan menjadi gerakan untuk memajukan Maluku dan Indonesia.

(bsn01)

By admin