AMBON – beritasumbernews.com – Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XII Maluku dan Maluku Utara, Prof. Dr. Saiful Deni, M.Si, mengapresiasi kolaborasi Universitas Muhammadiyah Maluku (UM) dan Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) yang dinilai sebagai wujud nyata kampus berdampak bagi masyarakat.

Hal itu disampaikan Saiful Deni dalam kegiatan harmoni lintas iman yang digagas dua kampus tersebut di Ambon, Rabu (5/11/2026), yang dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Wakil Gubernur Maluku, Walikota Ambon, tokoh agama, dosen, mahasiswa dan siswa-siswi SMA.

“Yang paling membanggakan kami adalah dua rektor ini. Mudah-mudahan ke depan kita akan terus menggali ini sebagai salah satu budaya kita. Tidak sekedar toleransi, tapi harus ada namanya kolaborasi,” ujar Saiful.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Wakil Menteri yang berkenan hadir, serta kepada UKIM dan Universitas Muhammadiyah Maluku sebagai penyelenggara.

“Ada hal yang menyentuh hati kami, bahwa kegiatan tentang harmoni ini digagas bersama oleh dua kampus, dua tradisi iman yang berbeda. Satu undangan ditandatangani dari dua rektor dan dua mars kampus dinyanyikan dalam satu ruangan. Ini lapisan tertua dan terkuat, sebelum satu kata pun diucapkan, harmoni bukan slogan, harmoni adalah kerja kita bersama,” katanya.

Menurut Saiful, Maluku pernah melewati masa kelam konflik 1999-2002, namun bangkit dengan nilai, pela gandong, hidup orang bersaudara, dan falsafah ale rasa beta rasa_. Hari ini Ambon dikenal dunia sebagai kota musik yang diakui UNESCO sejak tahun 2019.

Secara nasional, Indeks Kerukunan Umat Beragama tahun 2025 mencapai 77,0, tertinggi sejak 2015. Dimensi toleransi mencapai 88,2 persen dan kesetaraan 79,35 persen, namun dimensi kebersamaan hanya 65,49 persen.

“Kita sudah pandai saling menghargai, tetapi belum cukup sering bekerja sama. Di sinilah peran pemuda dan kampus mengubah toleransi menjadi kolaborasi,” tegasnya.

Ia mengingatkan pemuda merupakan bonus demografi, bukan jaminan. Indonesia memiliki sekitar 64,2 juta pemuda berusia 16-30 tahun, namun data BPS 2025 mencatat 19,44 persen penduduk usia 15-24 tahun tidak bersekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan. Di Maluku angkanya mencapai 28 persen.

“Tingkat pengangguran terbuka nasional 4,84 persen, Maluku sekitar 5,80 persen, Maluku Utara sekitar 4,45 persen. Di Maluku, pengangguran justru tertinggi pada lulusan D1 sampai D4 hingga S3 sekitar 7,5 persen. Pesannya jelas, gelar bukan jaminan pekerjaan. Kompetensi, jejaring, dan keberanian menciptakan peluang yang menentukan,” ujarnya.

Saiful juga menyoroti teknologi sebagai pisau bermata dua yang dapat menyatukan, namun juga dapat menyebarkan hoax dan ujaran kebencian yang merobek persaudaraan.

Oleh karena itu, sejak Mei 2025, LLDIKTI XII menggandeng Mafindo Maluku untuk literasi digital dan anti-hoax di perguruan tinggi wilayah timur.

“Kebijakan Kampus Berdampak ini mengajak perguruan tinggi keluar dari menara gading dan menjadi pemecah masalah masyarakat. Bagaimana LLDIKTI XII Maluku dan Maluku Utara bisa berdampak bagi pemerintah maupun masyarakat,” katanya.

Ia menyebut kebijakan tersebut sejalan dengan Asta Cita keempat tentang pembangunan manusia, serta program Aksara Mahasiswa 2026 dengan skema Aksara Peduli dan Aksara Circular agar mahasiswa turun langsung membantu masyarakat.

“Peluang di wilayah timur pun terbuka, mulai dari pembangunan di Tanimbar, investasi mineral di Maluku Utara, perikanan dan rempah, serta ekonomi kreatif berbasis musik dan budaya,” tutupnya.

(bsn01)

By admin