Namlea – beritasumbernews.com – Dinamika Musda VI DPD II Partai Golkar Kabupaten Buru memanas. Ketua Pimpinan Sidang, Burhan Latuconsina, menuai sorotan setelah pergi ke Ambon untuk berkoordinasi dengan DPD I Partai Golkar Maluku tanpa melibatkan tiga pimpinan sidang lainnya.
Langkah Latuconsina membuat tiga pimpinan sidang: Agus Prayetno, Fandy Umasugi, dan Zainudin Kabau mengaku kecewa. Mereka menilai keputusan itu mengabaikan mekanisme kolektif-kolegial dalam forum.
Pernyataan itu disampaikan ketiganya kepada _Radartipikor.com_ di Namlea, Minggu (13/4/2026) sore.
*“Ketua Hanya Memfasilitasi, Bukan Memutus Sendiri”*
Sekretaris pimpinan sidang, Agus Prayetno, menyesalkan tindakan Burhan Latuconsina yang lebih dulu ke Ambon untuk koordinasi dengan DPD I.
“Kendati beliau ketua pimpinan sidang, tugasnya memimpin dan memfasilitasi, bukan memutuskan sendiri tanpa koordinasi dengan kami. Ini mengabaikan hak kami sebagai pimpinan sidang juga,” ujar Agus.
Dinilai Langgar Tatib dan AD/ART*Anggota pimpinan sidang, Fandy Umasugi, mengaku kecewa sejak malam sebelum sidang diskors. Menurutnya, selama dinamika alot di forum, ketua pimpinan sidang tidak memberi ruang bagi pimpinan lain menyampaikan pandangan.
“Langkah ketua jelas melanggar tata tertib soal mekanisme organisasi yang termuat dalam AD/ART. Keputusan tanpa koordinasi bukan saja mengecewakan kami, tapi melukai semua peserta forum Musda VI,” kata Umasugi.
*Koordinasi Tanpa Persetujuan Kolektif*
Zainudin Kabau menegaskan, kekecewaan bukan baru kali ini. Sebelumnya, sidang Musda juga diskors oleh ketua tanpa koordinasi lebih dulu.
“Ketua pimpinan sidang bersifat kolektif-kolegial. Utusan DPD I adalah kesatuan kolektif. Segala keputusan dan koordinasi harus diputuskan bersama,” tegas Kabau.
Ia menambahkan, koordinasi ke provinsi wajar, tapi tidak boleh mengabaikan aturan. “Tanpa persetujuan kami, itu bisa dinilai pelanggaran konstitusi tatib.”
Pantauan di forum, sidang Musda VI berlangsung alot dan berakhir buntu. Musda diskors tanpa menghasilkan ketua baru. Ketegangan bermula dari perdebatan sesama tim _steering committee_ di hadapan forum hingga terjadi kegaduhan panjang.
Beberapa peserta menilai ketua sidang tidak memberlakukan tatib secara maksimal. Ada peserta yang merasa hak bicaranya tidak seimbang saat interupsi. Tim _steering_ juga disebut belum diberi waktu memastikan semua tahapan kerja rampung sebelum laporan disampaikan.
Utusan DPD I selaku pengarah juga dinilai tidak memberikan masukan produktif yang menyejukkan forum. Justru sempat menyebut _steering committee_ gagal melaksanakan tugas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Burhan Latuconsina terkait kritik tiga pimpinan sidang lainnya.
(TIM)











Setibanya di VIP Room Bandara Pattimura, suasana seketika berubah meriah sekaligus sakral. Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menyambut langsung Sang Jenderal Petarung dengan prosesi pengalungan kain tenun khas Maluku sebagai simbol penghormatan tertinggi dan ikatan persaudaraan yang abadi. Kemeriahan semakin memuncak saat tarian Lenso dari anggota Persit Yonif 733 dan dentuman musik Totobuang dari Sanggar Wairanang Negeri Soya mengiringi langkah Sang Panglima baru.
Dalam pelaksanaannya, uji konsep dilaksanakan melalui pemaparan rencana operasi, diskusi taktis, serta simulasi skenario operasi tiap Satgas yang melibatkan unsur dan satuan jajaran Kodaeral lX serta satuan terkait lainnya.
Upacara ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah antar personel serta tamu undangan. Rangkaian HUT ke-80 TNI AU di Lanud Pattimura menjadi bukti nyata pengabdian Prajurit TNI Angkatan Udara kepada bangsa, negara, dan masyarakat khususnya daerah Ambon.


