AMBON – beritasumbernews.com Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku menggelar pertemuan kerja bersama para pemangku kepentingan pada hari Rabu (11 Desember 2026) pukul 05.00 Waktu Indonesia Timur (WIT) di Kafe Red Brick Ambon. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong kontribusi sektor jasa keuangan dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% di tahun-tahun mendatang, sekaligus mengangkat berbagai isu krusial mengenai perkembangan perekonomian dan keuangan di wilayah perpulauan tersebut.
Kepala OJK Provinsi Maluku, Muhammad Andy Yusuf, memimpin bahasan mengenai peran strategis otoritas dan sektor jasa keuangan dalam mendorong partisipasi serta kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah dan nasional. Turut hadir Novian Suhardi, Kepala Bagian Pengawasan Perilaku Edukasi Perlindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis (PEPKLMS) OJK Provinsi Maluku, yang membahas upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan di daerah yang memiliki tantangan geografis khusus.
Selain perwakilan OJK, pertemuan juga menghadirkan narasumber dari Pengadilan Provinsi Maluku yang diwakili Bapak Hari, serta perwakilan Bank Syariah Indonesia (BSI) Provinsi Maluku. Dalam kesempatan yang sama, akan hadir juga perwakilan Pegadaian untuk membahas perkembangan kegiatan literasi keuangan yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat akan produk dan layanan keuangan yang aman dan sesuai kebutuhan.
Dalam paparannya, Andi Muhammad Yusuf menjelaskan bahwa pasar modal di Kawasan Maritim Bengkulu (KMB) termasuk dalam lingkup tugas OJK sebagai bagian penting dari ekosistem keuangan nasional, sehingga diperlukan kerja sama sinergis antar pihak terkait. Saat ini, industri keuangan syariah tengah menggalakkan tagline baru “Gerak Syariah” untuk memperkuat eksistensi dan aksesibilitas layanannya, serta akan menyelenggarakan program “Gebyar Ramadan Keuangan Syariah” sepanjang bulan Ramadan mendatang dengan berbagai kegiatan edukatif yang sesuai nilai agama dan budaya lokal.
Beliau menambahkan bahwa OJK dan seluruh industri jasa keuangan terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan pelaku usaha lokal. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem keuangan yang sehat dan inklusif, guna mengoptimalkan potensi sumber daya alam Maluku yang melimpah namun masih membutuhkan dukungan infrastruktur dan akses keuangan yang lebih baik.
Sebagai otoritas pengawas dan pengembang sektor jasa keuangan, OJK menyadari bahwa target pertumbuhan ekonomi 8% tidak dapat dicapai sendirian. Kontribusi dari otoritas fiskal, sektor riil, dan otoritas moneter sangat diperlukan untuk bekerja sama guna mencapai tujuan bersama tersebut.
Untuk memahami kontribusi optimal sektor jasa keuangan, perlu dilihat perkembangan perekonomian daerah yang menjadi dasarnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku, pertumbuhan ekonomi tahun 2025 mencapai 4,56% – angka positif yang menunjukkan perekonomian terus maju, meskipun sedikit di bawah rata-rata nasional sebesar 5,1456%. Secara rata-rata, pertumbuhan ekonomi Maluku setiap tahun selalu berada di atas 5%.
Pertumbuhan ekonomi positif tersebut didorong oleh sektor utama yaitu perikanan dengan potensi hasil tangkapan besar untuk konsumsi dan ekspor, perkebunan yang menghasilkan komoditas kelapa sawit, cengkeh, dan pala bernilai tinggi, administrasi pemerintah melalui penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), serta sektor perdagangan yang terus berkembang seiring meningkatnya konektivitas wilayah.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi masyarakat Maluku tumbuh sebesar 4,5% pada tahun 2025, meskipun terdapat sedikit perlambatan. Hal ini disebabkan dominasi sektor hulu yang bergantung pada sumber daya alam dan sedikit penurunan pengeluaran pemerintah melalui APBD. Namun demikian, sektor industri kecil dan menengah serta jasa tetap menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi dan memberikan kontribusi penting.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Maluku masih di bawah rata-rata nasional, menunjukkan celah yang perlu ditutup dalam pemerataan kesejahteraan. Inflasi di wilayah tersebut tercatat sebesar 3,5%, sedikit melebihi target nasional 3% ±1%, namun tetap terkendali dan tidak memberikan dampak besar terhadap daya beli masyarakat.
Masalah kemiskinan dan kedalaman kemiskinan juga menjadi perhatian bersama, karena hasil pertumbuhan ekonomi belum dirasakan secara merata. Oleh karena itu, diperlukan upaya lebih intensif untuk mendorong pertumbuhan berkualitas melalui penyaluran kredit ke sektor produktif seperti pertanian, perikanan, industri kecil dan menengah, serta pariwisata yang memiliki potensi besar.
Pada tahun 2025, realisasi penyaluran kredit perbankan di Maluku sejalan dengan rencana bisnis, dan pada Januari 2026 cenderung stabil dengan sedikit penurunan yang perlu mendapat perhatian khusus. Berbeda dengan kredit konvensional, sektor keuangan syariah menunjukkan performa menjanjikan dengan pertumbuhan pembiayaan sebesar 20,54% – jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan yang hanya sekitar 5%.
Total aset bank syariah di Maluku telah mencapai 1 triliun rupiah dengan pangsa pasar sekitar 3% dari total aset perbankan sebesar 34 triliun rupiah. Angka Permasalahan Kredit (NPL) pada perbankan syariah juga sangat rendah, di bawah 1%, menunjukkan kualitas pembiayaan yang baik dan risiko yang terkendali.
OJK Provinsi Maluku terus mendorong perkembangan sektor jasa keuangan syariah lainnya seperti perusahaan pembiayaan syariah, asuransi syariah, dan pasar modal syariah agar lebih berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Jumlah investor di sektor syariah juga tumbuh positif sebesar 21,6% dengan kualitas pembiayaan yang terjaga, menunjukkan minat masyarakat yang terus meningkat.
Selain penyaluran kredit dan pembiayaan, literasi dan inklusi keuangan menjadi fokus utama program OJK bersama industri jasa keuangan. Tahun 2026 akan dilakukan pembaruan indeks literasi dan inklusi keuangan secara nasional hingga tingkat provinsi, setelah pada tahun 2016 survei hanya sampai tingkat nasional.
Hasil survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun lalu menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 60% dan indeks inklusi sebesar 80,51%. Namun data provinsi termasuk Maluku belum dapat dipublikasikan karena masih dalam tahap verifikasi dan analisis, sehingga diharapkan dapat dirilis secara resmi tahun ini untuk menjadi dasar evaluasi dan perumusan kebijakan.
Untuk sektor syariah khususnya, indeks literasi keuangan tahun 2025 mencapai 43%, meningkat dari 39% tahun sebelumnya. Namun indeks inklusi keuangan syariah hanya 13%, lebih rendah dibandingkan literasi – berbeda dengan pola pada sektor konvensional. Tantangan ini muncul karena pengenalan industri syariah belum sebesar konvensional dan jaringan layanan masih terbatas di daerah terpencil dan perpulauan.
Untuk mengatasinya, OJK bersama industri keuangan syariah mendorong kehadiran bank dan agen layanan di berbagai daerah, termasuk pulau dan kabupaten yang belum terjangkau. Meskipun membutuhkan waktu dan biaya, langkah ini sangat diperlukan untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Selain itu, program kampanye literasi keuangan syariah berjalan dengan intensitas tinggi setiap tahun melalui “Gerak Syariah” dan “Gebyar Ramadan Keuangan Syariah”. Program ini dilakukan secara kolaboratif dengan berbagai pihak terkait untuk mencapai cakupan yang lebih luas dan hasil optimal, bertujuan mencakup seluruh kabupaten di Maluku hingga daerah perpulauan.
Kampanye literasi keuangan syariah telah memberikan hasil signifikan dengan capaian 43% pada tahun 2025. Setelah menyampaikan paparan komprehensif, Andi Muhammad Yusuf menyerahkan kesempatan kepada Novian Suhardi untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai upaya peningkatan perlindungan konsumen dan layanan manajemen strategis dalam sektor jasa keuangan di Provinsi Maluku, agar seluruh peserta dapat berbagi informasi dan pengalaman lebih dalam.”tutup ,
(Chey)