AMBON – beritasumbernews.com – Rapat Kerja (Raker) Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santa Maria Bintang Laut (MBL) Ambon menginisiasi agar Aksi Puasa Pembangunan (APP) jelang masa Prapaskah tahun 2026, sebagian program kerja difokuskan pada aksi nyata pembersihan lingkungan; yakni pembersihan daerah pantai dan laut sekitar pesisir pantai Benteng dari sampah plastik dan sampah Anorganik.
Sampah Anorganik adalah sampah dari material tidak hidup atau benda mati, umumnya hasil olahan industri dengan ciri-ciri
sulit atau tidak dapat terurai secara biologis (undegradable), tahan lama, cenderung kering.
Contoh: Plastik, kaca, logam, besi, karet, kaleng, styrofoa.
Sampah plastik mencemari lingkungan karena sifatnya yang non-biodegradable (tidak mudah terurai), membutuhkan waktu ratusan tahun untuk hancur, dan melepaskan bahan kimia beracun. Plastik menumpuk di tanah dan laut, berubah menjadi mikroplastik yang meracuni ekosistem, mengganggu kesuburan tanah, menyumbat aliran air, serta membahayakan makhluk hidup.
Sampah plastik tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme tanah dengan cepat. Botol plastik, misalnya, memerlukan waktu sekitar 450 tahun untuk hancur.
Pencemaran Tanah dan Air: Plastik yang tertimbun melepaskan zat kimia beracun ke dalam tanah dan air tanah. Di laut, plastik mengancam organisme yang dapat memakannya secara tidak sengaja, menyebabkan kematian.
Pembentukan Mikroplastik: Plastik terurai menjadi partikel kecil yang disebut mikroplastik yang mencemari tanah, air, dan udara, serta masuk ke dalam rantai makanan. Demikian halnya dengan pencemaran udara yaitu melalui proses pembakaran. Pembakaran sampah plastik melepaskan zat berbahaya seperti dioksin dan furan, yang menyebabkan masalah kesehatan serius seperti gangguan pernapasan dan kanker. Disegi lain
Penyumbatan Saluran Air:
Sampah plastik yang dibuang ke sungai mengakibatkan pendangkalan dan penyumbatan yang memicu banjir.
Emisi Gas Rumah Kaca: Produksi dan pembakaran plastik melepaskan karbon dioksida dan metana yang berkontribusi pada pemanasan global.
Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan peningkatan daur ulang sangat penting untuk mengatasi dampak negatif ini.
RD Amandus Oratmangun mengemukakan, memasuki masa pra Paskah dalam tahun ini, salah satu program kerja nyata dalam membantu pemerintah kota Ambon adalah kegiatan pembersihan sampah anorganik di lingkungan area pantai dan sekitar laut kawasan Benteng, Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon, provinsi Maluku.
“Program kerja ini saya mengharapkan nanti satu dua program, mengimplementasikan program dari pemerintah kota.
“Karena laut kita yang tercemar karena sampah, mungkin dalam aksi puasa pembangunan ini, kita masuk Rabu Abu, satu hari kita bisa tentukan untuk bersihkan pantai dan laut di sekitar kita ini dari sampah, “ajak Pastor Paroki MBL seraya menekankan pada aspek pencemaran sampah di wilayah pantai dan laut.
“Kita tentukan satu hari, melibatkan pengurus dewan Pastoral Paroki, Orang Muda Katolik (OMK) 200 orang paroki Santa Maria Bintang Laut (MBL) kita gerakan untuk membersihkan pesisir pantai dan laut sekitar kita dari sampah-sampah plastik, mungkin ada yang gunakan perahu angkat sampah plastik di laut, atau juga sampah di pinggir jalan dan atau di got, kalau kita sepakat satu hari untuk aksi nyata untuk membersihkan lingkungan, ” ajak RD Amandus disela-sela sambutannya pada Raker DPP Santa Maria Bintang Laut Ambo yang dilangsungkan di gedung Katolik Center Selasa (17/02).
Raker tersebut, diikuti oleh 24 Ketua Rukun, tiga utusan perwakilan rukun dan menghadirkan lebih dari 100 anggota Dewan Pastoral Paroki (DPP) St MBL.
Raker ini, dibuka oleh Sekretaris kota Ambon, Roberd Sapulete, ST, MT mewakili Walikota Ambon, Bodewin Melkias Wattimena.
Aksi puasa pembangunan (APP) yang diwujudkan dalam aksi pembersihan lingkungan: utamanya pembersihan sampah baik di sekitar pantai, laut, jalan raya maupun sampah di got dan atau selokan bagian dari wujud kerja nyata kita mendukung program pemerintah kota untuk kebersihan kota Ambon.
“Kesehatan itu juga sangat ditentukan oleh keberhasilan, dan kebersihan keluarga, lingkungan, sangat ditentukan oleh kita sendiri bukan pemerintah yang menentukan tapi kita sendiri yang menentukan, ” tandas Wakil Uskup kota Ambon ini.
RD Amandus Oratmangun, selain sebagai pastor paroki tapi dalam jabatannya sebagai Wakil Uskup wilayah kota Ambon dan jabatan ini telah diemban salam lebih dari 20 tahun sudah.
Pada kesempatan yang indah ini mari kita berkontribusi yang baik dan positif memberikan pemikiran yang cemerlang agar kita bisa membangun paroki ini secara baik kedepan.
“Bapak Plt Sekot saya mau sampaikan bahwa sebelum kita rapat kerja (Raker) saat ini pada Sabtu (14/2) lalu kami sudah lakukan pembekalan, kepada ketua rukun dan pengurus rukun, mereka ini kalau di GPM itu semacam unit-unit kecil, tapi mereka ini sangat menentukan perkembangan dan gerak dari Paroki, oleh karena itu kita memberikan pembekalan kepada mereka sehingga kita berjalan satu arah.
“Apa yang gereja, keuskupan dan paroki lakukan bisa dilaksanakan di tingkat rukun, dan itu sudah jalan dan kemarin hari Minggu (15/02) kita sudah lantik mereka dan Hari ini mereka sudah sah, untuk menyampaikan pendapat, memberikan masukan dan lain sebagainya, jadi prosesnya seperti itu dan hari ini kita rapat kerja (raker) secara khusus kita membahas program kerja dari masing-masing bidang di Paroki Santa Maria Bintang Laut, ” urai RD Amandus Oratmangun.
Ide atau gagasan cemerlang yang digagas Pastor Paroki Santa Maria Bintang Laut disambut positif oleh pemerintah kota Ambon.
Sekretaris kota Ambon, Roberd Sapulete ST, MT dalam sambutannya mengapresiasi, kebijakan strategis DPP MBL yang memfokuskan program kerja pada pembersihan lingkungan merupakan suatu tindakan nyata bahwa gereja tidak hanya berbicara dalam ruang lingkup gereja tetapi gereja bekerja secara nyata.
” Kalau kebijakan pastor paroki MBL melalui, rapat kerja pastoral ini, untuk aksi puasa pembangunan pembersihan lingkungan melalui pembersihan sampah di area pantai dan laut disekitar sini, itu berarti sesuatu tindakan nyata bahwa gereja tidak hanya berbicara dalam ruang lingkup gereja, melainkan gereja bekerja secara nyata.
“Terimakasih Pastor kalau sampah banyak tinggal pastor kontak Beta (saya) Beta suruh mobil sampah datang angkat sampah di tempat sini, ” imbuh Roberd Sapulete, seraya mengangkat kembali kalau RD Man sempat bercerita kalau mandi dan berenang di pesisir laut teluk dalam Ambon, kurang begitu nyaman lantaran usai berenang badang terasa gatal.
“Bapak, ibu beberapa waktu lalu pastor bilang, biasanya antua mandi dibawah, tapi belakangan gatal karena memang ” Teluk Dalam” sudah tercemar, persoalan yang dihadapi pemerintah kota saat ini adalah sampah, dimana-mana ada sampah, kita tidak bisa pungkiri dari sampah karena sampah adalah bagian dari pada aktifitas kehidupan kita keseharian. Namun yang menjadi persoalan kadang kita tidak tertib dalam membuang sampah.
“Kadang kala koleksi poin, atau kotak-kotak sampah yang sudah disediakan dan atau ditempatkan di berbagai tempat tapi tidak dimasukan dalam kotak, malah kadang diletakan atau ditempatkan didepan kotak sampah yang tersedia, akibatnya jika binatang sejenis anjing, datang robek atau tikus, ayam mencakar maka menimbulkan ketidaknyamanan, karena itu dibutuhkan kesadaran kolektif, ” ingat Sapulete saat membacakan sambutan Walikota Ambon, Drs Bodewin Melkias Wattimena.
Dalam prespektif peradaban kota, keberadaan dewan pastoral paroki dan seluruh pewartaan dan pelayanannya menjadi bagian dari kekuatan sosial yang menopang terciptanya masyarakat yang religius, beradab dan berakhlak.
Gereja melalui pelayanan pastoral hadir bukan hanya untuk membina kehidupan iman, tetapi juga untuk mendorong kepedulian sosial.
“Memperkuat ketahanan keluarga, mendampingi generasi muda, oleh sebab itu setiap perencanaan dewan pastoral yang dirumuskan dalam rapat kerja sesungguhnya turut memberi arah, bagi terbangunnya harmoni kedamaian dan kesejahteraan bersama.(*)