Ambon,beritasumbernews.com,Pasca Viralnya indikasi nepotisme olah raga yang di perankan oleh Ketua harian Pengprov TI Maluku
Johanes. A. Almindo dan Ketua Pengprov TI Maluku Hengki Pelata, pada pembentukan tim atlet taekwondo Maluku yang di turunkan mengikuti ajang pra-Pon Jakarta, mendapat perhatian publik dan bahan pembicaraan publik.
Dugaan nepotisme olah raga yang terjadi pada atlet taekwondo Maluku ini menjadi perhatian serius di publik, selaku pembina Dojang taekwondo Fantfelos dan sebagai anggota DPRD Kota Ambon dari Komisi I Julius Joel Toisuta yang akrap di sapa Jelly akhirnya angkat bicara.
Kata Toisuta kepada wartawan media ini via telpon genggam-nya menyampaikan” kenapa praktek nepotisme masih berlaku di olah raga di Maluku, jangan karena bapak sebagai pengurus, lalu anak – anak yang tidak mempunyai kemampuan lalu harus di paksakan untuk di kirim mengikuti Pra-Pon tersebut. Ungkap Toisuta
Di katakannya” para atlet tersebut bertarung mewakili nama daerah bukan membawa nama keluarga, dan menjadi pertanyaan-nya kenapa Pengprov TI Maluku tidak mengirim para atlet yang sangat – sangat berprestasi yang sudah jelas memiliki segudang pengalaman emas, bahkan dari ajang Popmal itu adalah ajang seleksi menuju Pra-Pon Jakarta. Heran Toisuta
Toisuta menyampaikan” pihaknya cukup kecewa dengan sikap KONI Maluku yang di duga tidak mengecek secara langsung ke setiap Dojang, atau Kabupaten Kota untuk mengetahui atlet siapa yang sangat berprestasi dan sudah menyumbang emas untuk Dojang, maupun Kabupaten-nya dan bahkan daerah Maluku. Kesal Toisuta
Lebih jelasnya Toisuta berharap praktek nepotisme olah raga ini harus segera di hentikan, karena hal ini sangat merugikan olah raga di Maluku, terlebih kusus pada para atlet yang berlatih, dan itu berlaku bukan di taekwondo saja namun pada semua cabor yang ada di Maluku. Ujar Toisuta
Menurutnya” selaku pembina dan pemerhati olah raga kususnya taekwondo, pihaknya sangat prihatin pada para atlit yang sudah bersusah payah bertarung di atas matras pertandingan untuk memberikan yang terbaik guna nantinya bisa mewakili Maluku pada ajang Pra-Pon, namun kandas karena adanya praktek nepotisme yang di perankan oleh oknum Pengprov TI Maluku itu sendiri. Sebut Toisuta
Pasalnya” hal ini juga karena Pengprov TI Maluku kurang ada perhatian serius dan bahkan kurang adanya event – event yang di buat baik itu dari KONI, maupun kusus Pengprov TI Maluku guna menjaring atlet – atlet atau bibit atlet terbaik.
Sebagai pembina Dojang Fantfelos Kota Ambon, Toisuta berikan apresiasi yang luar biasa pada Kejuaraan Fantfelos yang baru saja usai beberapa hari lalu, karena walaupun dengan berbagai keterbatasan dan kekurangan anggaran, namun Kejuaraan tersebut berlangsung dengan baik bahkan memperoleh atlet terbaik untuk di turunkan pada piala Presiden di Jakarta pada Januari 2024 nanti. Beber Toisuta
Selain itu Toisuta juga menambahkan bahwa” yang paling utama dan paling penting itu adalah nepotisme ini harus di hapuskan dari dunia olah raga di maluku, baik itu di taekwondo maupun semua cabor – cabor yang lain, karena itu hanya merugikan atlet. Pinta Toisuta
Toisuta berharap” agar KONI Maluku harus mengevaluasi kembali Pengprov TI Maluku, karena tidak berpihak pada para atlet taekwondo yang berprestasi namun lebih cendrung memilih atlet yang tidak berprestasi bahkan indikasi keluarga ketua harian, atau anak ketua harian.
Lebih kasarnya Toisuta mengatakan lagi janganlah Pengprov TI Maluku kerja ngaur, yang mana mengirim atlet yang tidak berprestasi lalu malah mencoret atlet yang jelas – jelas berprestasi dengan alasan yang tidak jelas. Tegas Toisuta
Toisuta menyarankan agar kepada cabor – cabor yang sudah terbukti banyak memberikan prestasi atlet-nya agar bisa menjadi program tahunan menggelar event – event tahunan, sehingga bisa mendapatkan dan mengoleksi bibit – bibit muda yang berprestasi atau atlet yang berprestasi. Sarannya
Di akhir keterangan-nya secara tegas Toisuta kembali mengingatkan bahwa” praktek nepotisme olah raga ini harus segera di hentikan, karena olah raga tidak akan maju dan berkembang di Maluku bahkan atlet prestasi tidak di beri ruang untuk berprestasi membawa nama daerah. Pungkasnya (V374)