Inamosol,beritasumbernews.com,     

Sangat di sayangkan sebagian besar Indonesia yang ada di pelosok tidak pernah menikmati kemerdekaan Indonesia, karena Warga Masyarakat pedalaman memikirkan Negara dengan wajib pajak, namun Nasip malang terus menimpa memandikan lumpur pecek.

Salah satu tokoh masyarakat Inamosol kepada awak media ini kemarin saat di jumpai JW menyampaikan bahwa” terlalu sedih dan sangat menyedihkan jika melihat Basudara yang ada di Kecamatan Inamosol, Kabupaten Seram Bagian Barat, kususnya Desa Rumberu, Rambatu, Manusa, Kawatu, Hunitetu, sampai juga ke Huku, saat beraktifitas menuju ibu Kota Kabupaten. Senin 14/02/2022

Kata JW Warga Rambatu ini, Jalan Penghubung Kairatu-Honitetu “Sudah terisolasi, tergerus pula oleh janji manis mulut penguasa”. Demikianlah ungkapan keresahan, ketika menggambarkan situasi dan kondisi Inamosol saat ini.

Inamosol adalah sebuah kecamatan yang terletak di Seram Bagian Barat, Maluku, Daerah ini berada di wilayah pegunungan Pulau Seram, Kondisi demografi wilayah pegunungan sangat membutuhkan akses infrastruktur jalan sebagai penghubung, Ini penting untuk mempermudah aktivitas masyarakat dalam pertumbuhan ekonomi dan pelayanan kesehatan, pendidikan, serta pemerintahan. Ungkap JW

Selain itu, sebut JW” wilayah pegunungan ini memiliki sumber daya alam yang kaya, Hasil alam seperti damar, sagu, cengkih, buah-buahan, umbi-umbian, dan berbagai hasil alam lainnya memang menjanjikan. Beber JW

Sehingga kehidupan masyarakat bergantung pada hasil-hasil alam yang ada, Sudah barang tentu, hasil-hasil alam tersebut memerlukan akses yang baik untuk dipasarkan, Dengan adanya kemudahan akses, perputaran ekonomi rakyat yang lebih terarah dapat didukung, demi mencapai peningkatan taraf hidup yang lebih baik. Jelas JW

Sayangnya selama 76 tahun menjadi bagian dari Negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat, masyarakat Inamosol masih termarginalkan, dan terabaikan, Sebab berpuluh-puluh tahun semenjak Indonesia merdeka, masyarakat Inamosol belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Pungkasnya

Masyarakat nyaris tak merasakan kue pembangunan, Padahal kami punya hak sama di Negara ini, Iming-iming pemenuhan hak-hak konstitusional dengan membangun fasilitas memadai masih menjadi wacana setengah hati. Kata JW

Selama ini, aktivitas di ibu kota Kecamatan Inamosol berjalan dengan tidak normal, Keadaan pincang ini dipengaruhi oleh kondisi infrastruktur jalan penghubung Kairatu-Honitetu yang rusak parah.

Padahal jalan merupakan nadi kehidupan masyarakat di wilayah ibu pegunungan ini, Meski berstatus provinsi, pemeliharaan dan perbaikan jalan tidak serius dilakukan. Tutur JW

Sehingga walau sudah berabad-abad digunakan, jalan puing-puing peninggalan Belanda yang dikerjakan dengan sistem rodi (kerja paksa) ini sangat tidak layak untuk dilalui lagi, Sekarang, jalan tertua di Pulau Seram tersebut telah rusak termakan usia. Ungkap JW

Upaya masyarakat melalui lobi-lobi kepada pemerintah selama bertahun-tahun hanya mengambang diruang-ruang janji manis, Proyek yang dianggarkan untuk pembuatan jalan warisan penjajah ini belum sepenuh hati terealisasi.

Padahal jika berangkat dari visi Gubernur dan Wakil Gubernur 2019-2024 “MALUKU YANG TERKELOLA SECARA JUJUR, BERSIH DAN MELAYANI, TERJAMIN DALAM KESEJAHTERAAN, DAN BERDAULAT ATAS GUGUSAN KEPULAUAN” dengan misi pada poin 3 “Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan”, dan poin 4 “peningkatan infrastruktur dan konektivitas gugus pulau” masyarakat mulai menaruh harapan besar pada pemerintahan rezim ini, Malangnya, visi-misi ini bagaikan gula-gula karet yang habis manis haram hukumnya ditelan, sehingga harus di buang, maka jelas sudah Inamosol lah permen karet itu. Heran JW

Patut menjadi pertanyaan, bahwa sudah sejauh mana keseriusan pemerintah dalam mengatasi masalah peningkatan aksebilitas dan konektivitas didaerah terisolasi seperti Inamosol, demi mengoptimalikan pelayanan kepada masyarakat? Tentunya masyarakat menantikan realiasi nyata dilapangan, bukan janji tumpang tindih janji yang berakibat hilang percaya. Paparnya

Permasalahan Inamosol bukan isu baru untuk diperbincangkan, Sejak lama, pendekatan dialogis hingga demonstrasi sudah ditempuh berulang kali, Sebut saja, gerakan Save Inamosol pada tahun 2019, gerakan Peduli Negeri pada 2020, dan pengawalan proses perjuangan yang gerakannya masih tetap dirawat hingga hari ini.

Dengan demikian masyarakat Inamosol tetap pada komitmen yang sama untuk serius meraih kemenangan agar sepenuhnya keluar dari keterisolasian, Sangat disesalkan apabila keseriusan rakyat justru direspon main-main oleh pelayan rakyat. Kesalnya

Ini justru menjadi faktor penghambat kemajuan di Negeri ini, Inamosol benar – benar di anak tirikan,bahkan terlupakan, mungkin warga Inamosol bukan manusia, sehingga harus merangka hidup sendiri, pertanyaannya lalu pajak – pajak warga Inamosol berpuluh tahun ini kemana dan untuk pembangunan dimana ?. Tutup JW
(Yan L)